Konsep Dakwah Sunni 2 | Orang Orang Diantara Syahadat Dan Menuju Keimanannya

Konsep Dakwah Sunni 2 | Orang Orang Diantara Syahadat Dan Menuju Keimanannya

Sangat perlu kita fahami status orang orang yang sudah bersyahadat dan setiap harinya berstatus muslim dan mengikuti ajaran keimanannya. Hakikatnya mereka semua adalah orang orang yang sedang dalam proses perjalanan menuju ke keimanannya. Mereka semua hidup bersama iman mereka dan menjalani perjalanan hidup menuju dan mengikuti imannya untuk menuju tuhannya yaitu Allah.

Status mereka belumlah tuntas, karena sesungguhnya mereka semua masih dalam proses perjalanan, yang namanya orang dalam proses perjalanan, mereka punya maklum atas potensi salah benar, khilaf, maksiat, ataupun berbuat baik, beramal shalih, hal itu masih sama sama terbuka dan punya peluang dilakukan atau ditinggalkan, selain itu perlu kita ketahui, bahwa proses perjalanan mereka sesuai dengan kadar kualitas iman dan ilmu mereka masing masing. Takaran kadar iman dan ilmu inilah yang menjadi tolak ukur kualitas cara hidup mereka masing masing.

Dari pemahaman inilah status mereka tidak bisa digugat apalagi disalah salahkan, karena hakikatnya perjalanan hidup mereka sesuai kadar keimanan dan keilmuan mereka sendiri sendiri, yang itu semua sudah menjadi suratan takdir yang terlewatkan.

Seperti halnya orang yang sedang dalam perjalanan dari tempat satu ke tempat tujuannya, pasti setiap orang berbeda beda. Entah memakai kendaraan atau tidak pasti ada yang cepat sampai, ada yang lambat sampai, ada yang di perjalanan terkena lubang, atau bahkan salah jalan, atau bahkan kesasar, jalan buntu, terkena hujan, ban bocor, sepedah mogok dan masih banyak lainnya.

Potensi ujian itu berlaku dan aktif untuk seseorang yang dalam proses perjalanan, siapapun orangnya, dari mana asalnya, apa pangkatnya, apa nasabnya, pasti jika statusnya orang yang dalam perjalanan pasti masih punya potensi itu semua. Kualitas perjalanannya pasti sesuai kadar iman dan ilmunya, seperti contohnya orang alim atau waliyullah, pasti untuk menuju Tuhannya tidak usah repot repot nyari jalan, kesasar atau lainnya, karena dia sudah tau dan hafal jalannya, jadi dia tinggal langsung melewati jalan yang sudah dia tau dan hafal. 

Berbeda dengan kadar iman dan ilmu yang ada di bawahnya, pasti di tengah perjalanan masih sempat capek, istirahat, atau salah jalan, apalagi yang menuju tuhannya belum pernah tau jalannya, seperti halnya mau menuju suatu tempat namun belum pernah ke tempat itu sama sekali, tidak tau jalannya, dan lainnya, pasti akan menemui berbagai macam rintangan di tengah perjalannya, apalagi dia belum punya bekal iman dan ilmu yang mencukupi.

Allh Swt memberikan isyarah terhadap kehidupan seseorang berhubungan dengan kadar iman dan ilmunya:

لَايُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا.

Allah tidak memberikan beban kepada seseorang kecuali dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286).

Menindak lanjuti pemahaman di atas, kedepan layaknya kita menyadari, bahwa sesungguhnya kita tidak punya modal apapun untuk menghujat orang lain, apalagi sampai mengecap seseorang masuk neraka. Karena sungguh itu perbuatan yang menyalahi koridor agama atau tata krama beragama, dan wewenang itu bukan ada di tangan kita.

Konsep Dakwah Sunni 2 | Orang Orang Diantara Syahadat Dan Menuju Keimanannya

Seperti halnya kita melihat ada seorang yang meninggalkan perintah Allah, atau pelacur, pemain judi, dan lainnya, mereka seperti itu karena memang kualitas iman dan ilmunya sebatas itu, seandainya kualitas iman dan ilmunya baik, pasti dia tahu hal seperti itu adalah hal yang harus di hindari. Walaupun kadang dia sudah tahu kalau itu dosa, namun bagaimana lagi, kualitas iman dan ilmunya masih belum bisa membatasi dirinya untuk menghindari itu semua.

Justru sebaliknya, ibarat kita yang tahu orang yang sedang perjalanan dan orang tersebut terkena lubang dan jatuh, dengan pemaparan manhaj di atas selayaknya justru kita yang harus merasa punya beban amanah terhadap orang yang terkena potensi ujian di perjalanannya. Bukan sebaliknya, ketika melihat orang terkena ujian di perjalannya, kita malah menhujat, mebodoh bodohkan, apalagi mensesat sesatkan. 

عن أبي رقية تميم بن اوس الداري: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الدين النصيحة قلنا لمن؟ قال الله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم.

Dari Tamim Ad-Dari, Rasulallah Saw bersabda “Agama adalah nasihat”. Para sahabat bertanya “Untuk siapa wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Untuk (hamba)Allah, (yang berpedoman) Kitab-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum”. (HR. Muslim).

Baca Juga: Konsep Dakwah Sunni 1 | Hasil Dari Majelis Kalau Tidak Kebaikan Ya Keburukan

Dari sinilah sehingga kita bisa tahu, hakikat dari titik akidah di atas adalah untuk mengetahui peran kita sebagai sama sama hamba, sama sama hidup dalam potensi baik dan buruk, kadang jika kita di posisi yang baik justru kita malah menyalahi peran yang seharusnya sesuai koridor agama, kadang kita malah menghujat, caci maki dan lainnya. Padahal jika kita di posisi yang salah, kita enggan untuk di caci maki dan lainnya, bukankah kita lebih suka dengan rangkulan hikmah dari sesama saudara kita. 


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel