Dalil Qath’i Dan Dalil Dzanni

Dalil Qath’i Dan Dalil Dzanni

Setiap perbuatan hukum umat Islam dianggap sah bila berdasarkan sebuah landasan, pedoman atau disebut dengan dalil atau nash. Dalil ialah sesuatu yang dijadikan pedoman atas hukum syara’ mengenai perbuatan manusia secara pasti (qath’i) atau dugaan (dzanni). Dari sudut pandang keadaan dalil sebagai hujjah syariat, ia ada kalanya bersifat qath’i, yakni sebuah pedoman hukum yang memiliki kepastian yang wajib diyakini dan diamalkan dan juga adakalanya bersifat dzanni, yakni sebuah pedoman hukum yang sifatnya masih dugaan sehingga masih mungkin diperdebatkan dalam pengamalannya.

A. Dalil Qath’i

Dalil Qath’i adalah sebuah pedoman syariat yang telah memenuhi dua syarat, yakni pasti secara sumbernya (Al-Wurud), dan pasti secara petunjuk maknanya. Dalil qath’i ada dua macam, yaitu qath’i Al-Wurud, dan Qath’i Ad-Dalalah.

Qath’i Al-Wurud adalah dalil yang meyakini bahwa datangnya Al-Qur’an dari Allah dan Hadits dari Nabi Saw semua umat Islam telah sepakat bahwa sumber Al-Qur’an seluruhnya qath’i, berasal dari Allah dan tanpa sedikit pun perbedaan dengan yang diterima Nabi dari Allah melalui malaikat Jibril.

Terkait Hadits, terdapat perbedaan pandangan mengenai keotentikannya, tidak semua Hadits pasti berasal dari Nabi, karena tidak sedikit jumlah Hadits Hadits palsu. Penyebab kepalsuan Hadits disamping bahwa Nabi sendiri sangat melarang mencatat Hadits, juga bahwa proses pembukuan Hadits rentang waktunya sangat lama dari mana Nabi dan generasi Islam awal, semisal kitab Hadits Bukhari baru dibukukan 250 tahun setelah Nabi meninggal. Diantara Hadits yang masuk kategori qath’i adalah Hadits mutawatir, dan menurut Hanafiyah ditambah dengan Hadits Masyhur.

Qath’i Ad-Dalalah adalah dalil yang ungkapan katanya-katanya menunjukkan arti dan maksud tertentu dengan tegas dan jelas sehingga tidak mungkin dipahami lain karena tidak memberi peluang adanya ta’wil.

Dari segi kekuatan argumentasi (Al-Hujjiyah) maknanya, baik di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, sebagian qath’i dan sebagian besar dzanni. Diantara nash Al-Qur’an dan Hadits yang masuk kategori qath’i adalah muhkamat, mantuq, sarih, hakiki, dan sejenisnya. Contoh: persoalan kewajiban shalat

اَقِيْمُ الصَّلَاةْ.

“dirikanlah shalat.” (QS. An-Nisa’: 12).

Jika perhatian hanya ditunjukkan kepada nash Al-Qur’an yang berbunyi “Aqimu As-Shalah” maka nash ini tidak pasti menunjuk kepada wajibnya shalat, walaupun redaksinya berbentuk perintah, sebab banyak ayat Al-Qur’an yang menggunakan redaksi perintah tapi dinilai bukan sebagai perintah wajib. Kepastian tersebut karena  didukukng adanya dalil lain yang menguatkan kewajiban shalat, seperti: (a) pujian kepada orang-orang yang shalat. (b) celaan dan ancaman bagi yang meremehkan atau meninggalkan shalat. (c) berdasarkan banyak riwayat, Nabi dan shahabat nyaris tidak pernah meninggalkan shalat. Himpunan semua nash bertema shalat menunjukkan indikasi kuat bahwa penggalan ayat “Aqimu As-Shalah” secara pasti atau qath’i li ghairihi mengandung makna wajibnya shalat.

B. Dalil Dzanni

Dzanni menurut bahasa adalah perkiraan, sangkaan, atau dugaan antara benar dan salah. Adapun dzanni menurut istilah adalah dalil yang menunjuk kepada suatu makna yang meragukan dan tidak pasti sehingga menimbulkan peluang perbedaan pendapat bagi yang memahaminya. Dalil Dzanni ada dua macam, yaitu Dzanni Al-Wurud, dan Dzanni Ad-Dalalah.

Dzanni Al-Wurud adalah nash atau dalil yang sumber asalnya masih dalam dugaan. Jumhur ulama bersepakat untuk nash-nash yang datangnya dari Al-Qur’an tidak ada yang masuk kategori dzanni al-wurud karena secara keseluruhan adalah qath’i al-wurud. Adapun nash-nash yang sumbernya dari Hadits tidak semuanya masuk kategori qath’i al-wurud, karena ada sebagian besar sifatnya dzanni al-wurud, seperti Hadits Masyhur dan ahad.

Dzanni Ad-Dalalah adalah nash yang ungkapan kata katanya mengandung maksud meragukan sehingga memberikan kemungkinan dapat dita’wil. Baik Al-Qur’an maupun Hadits mengandung makna dzanni ad-dalalah. Menurut Safi hasan Abu Thalib, diantara lafadz yang masuk kategori dzanni ad-dalalah adalah bentuk ‘am, musytarak, mutasyabihat, dan mutlak. Contoh:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَ بَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَثَةَ قُرُوْءٍ.

“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.” (QS. Al-Baqarah: 228).

Lafadz quru’ tersebut musytarak dikarenakan memiliki dua makna yang saling bertentangan antara makna bersih (suci) dan kotor (masa haid). Maka timbullah kemungkinan dua arti yang bertentangan bahwa wanita wanita yang ditalak harus menunggu (‘iddah) tiga kali bersih atau tiga kali kotor.

Dalil Qath’i Dan Dalil Dzanni

Faktor Faktor Terjadinya Dzanni Ad-Dalalah

Setidaknya ada dua faktor utama yang menyebabkan terjadinya dzanni ad-dalalah yaitu: faktor kebahasaan, banyak lafadz-lafadznya berbentuk mutasyabihat, musytarak, majaz, mujmal, dan kinayah dan faktor rumusan-rumusan syara’, antara lain berkaitan dengn naskh, tarjih, pertentangan dalil-dalil syara’ dan kaidah kaidah ushuliyyah.

Syarat Qath’i dan Dzanni

Kriteria sebuah lafadz dapat dikategorikan sebagai qath’i menurut Imam Asy-Syatibi setidaknya ada sepuluh, yaitu: riwayat kebahasaan, riwayat yang berkaitan dengan tata bahasa/gramatika (nahwu), riwayat yang mengandung perubahan kata (sharaf), redaksi yang dimaksud bukan kata yang bersifat ganda (musytarak), tidak mengandung peralihan makna (ta’wil), redaksinya bukan kata metaforis (majas), bukan sisipan (idmar), bukan awalah dari akhiran, bukan pembatalan hukum (naskh) dan tidak mengandung penolakan logis.

Baca juga: Pengertian Nash, Pakem, Qarinah, Qath’i, Qath’i Ad-Dalalah, Qath’i Al-Wurud, Sunnah, Syariat, Thaghut, Ushul Fiqih

Kedudukan Qath’i dan Dzanni Dalam Beristinbath Hukum

Sudah dapat dipastikan nash-nash yang memenuhi dua kriteria, qath’i al-wurud dan qath’i ad-dalalah, baik Al-Qur’an maupun Hadits, tidak dapat ditolak untuk diamalkan sebagai hujjah syariat. Sebaliknya, bila sebuah nash tidak memenuhi dua syarat tersebut maka tergolong dzanni yang dapat dijadikan sebagai hujjah syariat bilamana terdapat dalil lain yang membatalkan kedzanniannya. Bila tidak, maka wajib di mauqufkan.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel