Kupas Tuntas Hukum Mengkonsumsi Kepiting

Kupas Tuntas Hukum Mengkonsumsi Kepiting

Dalam dunia fiqih, hukum mengkonsumsi kepiting menjadi perbincangan yang serius, hal itu disertai dengan argument dan refrensi dari berbagai macam nash dan kitab pada ulama, perlu kita ketahui bahwa untuk membahas hukum halal haram sesuatu kita harus bisa meneliti dan mengumpulkan berbagai macam sisi yang berkaitan. Seperti halnya hukum makan kepiting ini, kita tahu bahwa kepiting ada yang menyebutkan hidup di air dan di darat, ada yang bilang didarat mati jika lama seperti ikan umumnya contoh lele, ada yang bilang amphibi. Dari sekian banyak perspektif tersebut kita butuh kajian yang mendalam dari macam macam sisi tersebut.

Apakah kepiting hidup di darat dan air (amphibi)?.

Untuk membahas hukum memakan kepiting pertama kita harus tahu tentang fakta dari kepiting tersebut apakah termasuk amphibi (hidup di dua alam)ataukan bukan? Fakta ini juga sekaligus menjawan mitos orang orang yang bilang kepiting bisa hidup di darat (tanpa air).

Untuk membahas ini kami merujuk ke Komisi fatwa MUI tentang hukum memakan kepiting, yaitu MUI menyebutkan bahwa kepiting bukanlah hewan darat, baik yang di air laut ataupun air tawar dan menegaskan bahwa kepiting bukanlah hewan amphibi (hidup di dua alam). Hal tersebut mendapat bandingan yaitu kepiting memang hidup di darat dan di air, namun bukan seperti katak yang hewan amphibi, katak hidup di darat dan di air karena bernafas dengan paru paru dan juga bisa bernafas dengan kulit. Perbedaan itu jelas karena faktanya kepiting bernafas dengan insang, bisa kita cek di bagian bawah kepiting. Dan fakta lainnya kepiting tidak bisa bertahan hidup layaknya katak (amphibi) yang bisa hidup berhari hari, karena kepiting hanya bisa bertahan hidup ketika di insangnya masih menyimpan air untuk oksigennya bertahan hidup, namun jika simpanan air dalam insang kepiting sudah habis menguap atau evaporasi, maka kepiting tidak akan bisa bernafas dan akan mati, perbandingannya seperti halnya lele, belut, udang atau ikan lainnya, bertahan hidupnya hanya sebatas mana ia bisa menyimpan air untuk oksigennya.

Pernyataan di atas diperkuat dengan pendapat ulama dalam kitab Al-Mughni, Juz 9, Halaman 337, tahun 2002 menyebutkan:

كُلُّ مَا يَعِيْشُ فِي الْبَرِّ مِنْ دَوَابِّ الْبَحْرِ لَا يَحِلُّ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ كَطَيْرِ الْمَاءِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَكَلْبِ الْمَاءِ اِلَّا مَا لَا دَمَ فِيْهِ كَالسَّرَطَانِ فَاِنَّهُ يُبَاحُ بِغَيْرِ ذَكَاةٍ.

Setiap apa yang (dapat) hidup di daratan berupa binatang melata laut itu tidak halal, tanpa disembelih (terlebih dahulu), seperti burung laut, penyu, dan anjing laut. Kecuali binatang yang tidak memiliki darah, seperti kepiting, maka boleh dimakan tanpa disembelih. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Juz 9, Halaman 337).

وَعَنْهُ أَيْ عَنْ أَحْمَدَ فِي السَّرَطَانِ وَسَائِرِ الْبَحْرِيْ: أَنَّهُ يَحِلُّ بِلَا ذَكَاةٍ لِأَنَّ السَّرَطَانَ لَا دَمَ فِيْهِ.

Dan dari Imam Ahmad tentang hukum kepiting dan berbagai binatang laut, ia halal sekalipun tidak disembelih, sebab kepiting tidak memiliki darah (mengalir). ( Ibnu Muflih, Al-Mubdi’, Juz 9, halaman 214).

وَصَيْدُ الْبَحْرِ كُلُّهُ حَلَالٌ اِلَّا اَنَّ مَالِكًا يَكْرَهُ خِنْزِيْرَ الْمَاءِ لِاِسْمِهِ وَكَذَلِكَ كَلْبُ الْمَاءِ عِنْدَهُ وَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ السَّرَطَانِ وَالسُّلَحْفَاةِ وَالضِّفْدَعِ.

Dan binatang buruan laut semuanya halal, hanya saja Imam Malik memakruhkan babi laut karena namanya, begitu pula anjing laut menurutnya dan tidak haram memakan kepiting, penyu dan katak.  (Ibnu Abdil Baar, Al-Kahfi, Juz 1, Halaman 187).

Pemaparan diatas salah satu penguat hasil dari komisi fatwa mui yang menghalalkan kepiting untuk dikonsumsi dengan catatan selama tidak bermudlorot bagi kesehatan, hasil yang difatwakan MUI merupakan bentuk ijtihad MUI dalam menentukan hukum, karena memang belum ditemukan nash yang jelas menyebutkan keharaman kepiting, hanya saja ditemui tentang keharaman amphibi, hewan bertaring, menjijikkan, dan lain sebagainya.

Namun disisi lain, perlu kita ketahui bahwa juga ada sebagian Ulama yang menfatwakan haram, dan perbedaan tersebut merupakan rahmat, yang mana bisa menjadikan pilihan buat kita untuk mengikuti fatwa yang mana, selagi dalam diri kita memiliki unsur yang terbanyak yang mana untuk mengambil hukum yang akan kita pilih.

Berikut beberapa Ulama yang memberikan fatwa tentang keharaman kepiting:

وَلَا يُؤْكَلُ شَيْءٌ مِنْ حَيَوَانِ الْبَحْرِ اِلَّا السَّمَكَ.

Dan binatang laut dalam bentuk apapun tidak boleh dimakan kecuali ikan.  (At-Thahawi, Mukhtashar Ikhtilafil Ulama, Juz 3, Halaman 214)

وَمَا عَدَا أَنْوَاعُ السَّمَكِ مِنْ نَحْوِ اِنْسَانِ الْمَاءِ وَخِنْزِيْرِهِ خَبِيْثٌ فَبَقِيَ دَاخِلًا تَحْتَ التَّحْرِيْمِ. وَحَدِيْثُ (هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ وَالْحِلُّ مَيْتَتُهُ) الْمُرَادُ مِنْهُ السَّمَكُ.

Dan selain berbagai macam ikan, seperti manusia laut, dan babi laut, adalah menjijikkan dan masuk kategori haram. Sedangkan hadits (laut itu suci dan halal bangkainya) maksudnya adalah ikan. (Ibnu Abidin, Raddul Muhtar Alad Durul Mukhtar, Juz 6, Halaman 207).

وَعَدَّ الشَّيْخُ أَبُوْ حَامِدٍ وَاِمَامُ الْحَرَمَيْنِ مِنْ هَذَا الضَّرْبِ الضِّفْدَعَ وَالسَّرَطَانِ وَهُمَا مُحَرَّمَانِ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيْحِ الْمَنْصُوْصِ وَبِهِ قَطَعَ الْجُمْهُوْرُ.

Syaikh Abu Hamid dan Imam Al-Haramain memasukkan katak dan kepiting kedalam kategori binatang yang dapat hidup di dua tempat. Dua binatang tersebut diharamkan menurut pendapat yang shahih dan tercatat dalam madzhab. Dan dengan hukum haram ini, mayoritas ulama madzhab memutuskan. (Imam Nawawi, Al-Majmu’, Juz 9, Halaman 30).

Kupas Tuntas Hukum Mengkonsumsi Kepiting


يَحْرُمُ اَكْلُهُ لِا سْتِخْبَائِهِ كَالصَّدَفِ, قَالَ الرَّافِعِي: وَلِمَا فِيْهِ مِنَ الضَّرَرِ.

Haram memakan kepiting karena ia selalu menyelinap (bersembunyi) seperti kerang. Imam Rafi’i berkata: dan karena ia mengandung bahaya. (Ad-Dumairi, Hayatul Hayawan, Al-Kubra, Juz 1, Halaman 391).

Kesimpulannya, hukum memakan kepiting memiliki ikhtilaf dalam kalangan ulama mulai jaman dahulu, bahkan dari empat madzhab pun memiliki perbedaan dalam menentukan hukum mengkonsumsi kepiting ini. Namun perlu kita ketahui perbedaan pendapat masalah hukum mengkonsumsi kepiting tersebut sesuai dari unsur alasan dari masing masing hukumnya, dan untuk masalah alasan tersebut silahkan kembalikan ke diri kita masing masing, contoh, kepiting apakah termasuk menjijikkan buat diri kita?, alasan itu u,urannya adalah diri kita dan kemudian kita sesuaikan mana fatwa yang sesuai dengan unsur pada diri kita tersebut, lantas kita ambillah hukum yang sesuai dengan kriteria alasan pada diri kita tersebut. Dengan catatan tetap saling hormat menghormati perbedaan pendapat antar ulama yang memberikan fatwa.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel