Arti Adil Dalam Syarat Periwayatan Hadits Shahih

Arti Adil Dalam Syarat Periwayatan Hadits Shahih

Adil adalah salah satu dari lima syarat untuk menentukan keshahihan suatu hadits. Keadilan seorang rawi  yang dimaksud dalam syarat periwayatan hadits shahih menurut Ibnu As-Sam’any harus memenuhi empat syarat:

1. Selalu memelihara perbuatan taat dan menjauhi perbuatan maksiat
2. Menjauhi dosa dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun
3. Tidak melakukan perkara perkara mubah yang dapat menggugurkan iman kepada qadar dan mengakibatkan penyesalan
4. Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangan dengan dasar syara’.

Pengarang Al-Irsyad menta’rifkan perkataan adil itu adalah: berpegang teguh kepada pedoman adab adab syara’. Orang orang yang selalu berpedoman kepada adab adab syara’, baik terhadap perintah perintah yang harus dilakukan maupun larangan yang harus ditinggalkan, disebut keadilannya diridlai oleh Allah. Adapun adab adab menurut kebiasaan yang berlaku diantara manusia yang berbeda kondisi dan situasinya, tidak dapat dipakai dalam bidang periwayatan dan persaksian. Kendatipun jika seseorang meninggalkan adat kebiasaan tersebut tercela oleh masyarakat, namun tidak tentu tercela oleh agama.

Ta’rif ‘adalah yang dapat mencangkup kedua definisi tersebut dikemukakan oleh Ar-Razi, katanya:
‘Adalah ialah tenaga jiwa, yang mendorong untuk selalu bertindak takwa, menjauhi dosa dosa besar, menjauhi kebiasaan kebiasaan melakukan  dosa dosa kecil dan meninggalkan perbuatan perbuatan mubah yang dapat menodai keperwiraan (maru’ah), seperti makan di jalan umum, buang air kecil di tempat yang bukan disediakan untuknya dan bergurauan yang berlebih lebihan.

Arti Adil Dalam Syarat Periwayatan Hadits Shahih

‘Adalah itu merupakan ibarat terkumpulnya beberapa hal, yakni:

1. Islam, karenanya periwayatan dari seorang kafir, tidak dapat diterima. Sebab ia dianggap tidak dapat dipercaya. Lebih lebih kedudukan meriwayatkan hadits itu sangat tinggi lagi mulia.

2. Mukhallaf. Karenanya periwayatan dari anak yang belum dewasa, menurut pendapat yang lebih shahih, tidak diterima. Sebab dia belum terjamin dari kedustaan. Demikian pula halnya periwayatan orang gila.

3. Selamat dari sebab sebab yang menjadikan seseorang fasik dan dari sebab sebab yang dapat mencatatkan kepribadian seseorang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel