Al-Hikam 09 | Bila Dalam Hati Terlukis Gambar Semua Keadaan Selain Allah

Al-Hikam 09 | Bila Dalam Hati Terlukis Gambar Semua Keadaan Selain Allah

كَيْفَ يَشْرُقُ قَلْبٌ صُوَرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِي مِرْاَتِهِ اَمْ كَيْفَ يَرْحَمُ اِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَيَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ اَمْ كَيْفَ جَنَابَةِ غَفَلَاتِهِ اَمْ كَيْفَ يَرْجُوْا اَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الْأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ.

Bagaimana hati itu bisa bercahaya padahal gambar semua keadaan selain Allah terlukis di dalam cermin hatinya. Atau bagaimana orang dapat berangkat menghadap Allah padahal dia selalu terbelenggu oleh sahwatnya (keinginannya). Atau bagaimana orang dapat tamak (mempunyai kemampuan keras) agar bisa masuk ke hadirat Allah padahal dia belum bersuci dari janabah kelalaiannya. Atau bagaimana ia bisa berharap agar paham terhadap rahasia rahasia yang halus padahal itu belum bertaubat dari semua kesalahannya. (Al-Hikam).

Berkumpulnya dua barang yang berlawanan itu merupakan hal yang muhal (tidak mungkin terjadi). Sehingga orang akan merasa heran dan tidak akan percaya kalau ada seseorang yang menghendaki hatinya selalu bercahaya padahal di dalam hatinya terlukis gambar gambar keadaan selain Allah, yang semuanya menggiurkan dan merangsang. Pasti tidak mungkin terjadi, sebab terlukisnya gambar gambar keduniaan di dalam hati seseorang itu menyebabkan kegelapan hati. Gelap dan terang adalah dua barang yag berlawanan, jadi selama didalam hati seseorang itu selalu terlukis gambar gambar keduniaan, pasti harapan untuk dapat bercahaya hatinya tidaklah mungkin terjadi. Hati itu dapat bercahaya kalau ada sinar keimanan.

 Untuk dapat sampai ke dalam naungan Allah, orang harus memutuskan hawa nafsunya, karena hawa nafsu itu merupakan penghalang bagi orang yang ingin sampai ke dalam naungan Allah. Oleh sebab itu sangat tidak mungkin kalau ada orang menghendaki dapat sampai kepada Allah padahal dia masih terbelenggu oleh sahwat dan hawa nafsunya.

Untuk dapat masuk ke hadirat Allah, orang harus suci dari kesalahan kesalahan. Orang yang mempunyai kesalahan itu dimisalkan sebagai orang yang berjanabah, yaitu orang yang mempunyai hadast besar. Hadast besar yang berupa kesalahan kesalahan itu di cuci sebersih bersihnya lebih dahulu kalau ada orang berkemauan keras untuk masuk ke hadirat Allah.

Untuk bisa mengharapkan kepahaman di dalam perkara perkara yang samar (ghaib), orang harus bertaubat dari kesalahan kesalahannya. Artinya orang itu harus bertaqwa. Orang yang bertaqwa pasti tidak mungkin akan menjalankan kemaksiatan. Sebab antara taqwa dan maksiat merupakan dua hal yang berlawanan. Jadi tidak mungkin keduanya akan berkumpul, maka mustahillah kalau ada orang menginginkan dapat memahami barang barang yang samar (ghaib) tanpa melakukan taubat untuk menghapus kesalahan kesalahannya. Dengan bertaubat itulah orang akan menuju ke pintu taqwa. Sedang taqwa merupakan jalan untuk dapat memahami barang barang yang samar (ghaib).

Firman Allah

وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهُ وَاللهُ بِكُلَّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ.

Dan bertaqwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarmu, dan Allah maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah: 282).

Juga di dalam hadist disebutkan:

مَنْ عَمِلَ بِمَا يَعْلَمُ وَرَّثَهُ اللهَ عِلْمَ مَالَمْ يُعْلَمْ.

Barang siapa mengamalkan apa yang diketahui, maka Allah akan mewariskan kepadanya pengetahuan sesuatu yang belum diketahui.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk dapat mencapai tingkatan yang luhur orang harus melakukan:
1. Membersihkan hati dari berbagai lukisan duniawi yang dapat merangsang hawa nafsu untuk diisi dengan sinar keimana.
2. Memerangi hawa nafsu yang selalu membelenggu seseorang untuk berbuat maksiat.
3. Mencusikan diri dari semua kesalahan kesalahan yang dilakukan.
4. Bertaubat dari semua kesalahan yang di jalankan untuk kemudian bertaqwa kepada Allah.

Selanjutya Syaikh Ahmad Bin Athaillah berkata:

اَلَكَوْنُ كُلُّهُ ظُلْمَةٌ وَاِنَّمَا أَنَارَهُ طُهُوْرُ الْحَقِّ فِيْهِ فَمَنْ رَأَي الْكَوْنَ وَلَمْ يَشْهَدْهُ فِيْهِ اَوْ عِنْدَهُ اَوْ قَبْلَهُ اَوْ بَعْدَهُ فَقَدْ اَعْوَزَهُ وُجُوْدُ الْاَنْوَارِ وَحُجِبَتْ عَنْهُ شُمُوْشُ الْمَعَارِفِ بِسُحْبِ الْاَثَارِ.

Segala yang wujud itu semunya adalah gelap, sedang sesungguhnya meneranginya dalah tampaknya haq (Allah). Maka barang siapa melihat segala yang wujud ini akan tetapi dia tidak menyaksikan haq (Allah) di dalamnya atau di sisinya atau sebelumnya atau susudahnya, pastilah adanya cahaya itu telah menyilaukan dan terhalang dari padanya cahaya ma’rifat sebab adanya awan awan dari segala yang wujud ini. (Al-Hikam).

Barang yang pada mulanya tidak ada itu asalnya gelap. Kemudian barang itu bersinar sehingga menjadi kenyataan ini karena adanya kekuasaan Allah. Oleh sebab itu kalau ada orang dapat melihat barang yang wujud tetapi dia tidak melihat adanya kebesaran Allah di dalam barang yang wujud itu sebelum atau sesudahnya, maka teranglah dia telah silau. Semisal orang yang melihat barang yang mengeluarkan cahaya dengan kuat, tetapi dia tidak bisa melihat barang yang mengeluarkan cahaya itu. Atau mungkin dia tidak bisa melihatnya karena terhalang oleh sesuatu yang ada di dalam barang itu.

Al-Hikam 09 | Bila Dalam Hati Terlukis Gambar Semua Keadaan Selain Allah


Begitu pula manusia, seharusnya setelah melihat kenyataan yang ada di alam semesta ini menjadi sadar dan yakin bahwa semua berkat kebesaran Allah, janganlah kemudian setelah melihat kenyataan yang ada ini lalu menjadi silau, lupa akan kebesaran Allah, yang akhirnya dia tidak mempunyai rasa syukur sama sekali. Sebaliknya bagi orang yang sadar pasti akan bertambah rasa syukurnya dengan menjalankan semua perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang dapat berbuat demikian karena di dalam melihat kenyataan yang ada ini tidak silau atau karena penghalang yang menghalangi penglihatan hatinya telah terbuka. Maka jadilah ia orang yang ma’rifat kepada Allah.

Cobalah direnungkan, mengapa kadang kadang orang menjadi silau atau terhalang penglihatan hatinya setelah melihat kenyataan yang pada mulanya tidak ada? Untuk itu perlulah kita meneliti diri sendiri, mengapa kita buta hati. Setelah itu kita buang segala sesuatu yang menyebabkan buta hati ntuk menuju ke alam ma’rifat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel