Al-Hikam 06 | Ruhnya Amal Adalah Ikhlas

Al-Hikam 06 | Ruhnya Amal Adalah Ikhlas

تَنَوَّعَتْ اَجْنَاسُ الْاَعْمَالِ لِتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْاَحْوَالِ الْاَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ وَاَرْوَاحُهَا وُجُوْدُ سِرِّ الْاِخْلَاصِ فِيْهَا.

Beraneka ragam jenis jenis  amal yang kelihatan itu karena bermacam macam keadaan yang datang di dalam hati seseorang. Bermacam macam amal yang kelihatan itu merupakan kerangka yang tegak, sedang ruhnya adalah wujudnya rahasia ikhlas yang terdapat didalamnya. (Al-Hikam).

Terjadinya bermacam macam amal itu disebabkan karena bermacam macam keadaan yang datang di dalam hati seseorang. Misalnya ada orang yang senang menjalankan bermacam macam shalat, ada orang yang senang berpuasa, ada orang yang senang menuntut ilmu agama, ada orang yang senang membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya. Semua itu lantaran bermacam macamnya keadaan yang datang di dalam hati setiap orang. Sebab amal perbuatan yang kelihatan itu selalu mengikuti keadaan hati yang samar.

Yang dimaksud dengan “waridaatil ahwal” (keadaan yang datang di dalam hati seseorang) adalah sesuatu yang datang di dalam hati dari berbagai pengertian ke Tuhanan dan rahasia kerohanian. Keadaan ini kemudian bisa menimbulkan berbagai tingkah laku yang terpuji, misalnya senang menjalankan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya. Oleh sebab itu bagi orang yang belum mempunyai guru pembimbing dalam beramal, maka sebaiknya dia mengamalkan apa yang menjadi kecondongan hatinya. Akan tetapi kalau dia mempunyai guru, wajiblah baginya mengikuti perintah gurunya. Dia tidak boleh menjalankan apa yang menjadi ketentuan hatinya sendiri kecuali kalau sudah mendapat ijin gurunya.

Ketahuilah bahwa amal yang kelihatannya ini dapat dimisalkan seperti rangka yang tidak bermanfaat. Rangka itu dapat bermanfaat kalau memang ada ruhnya, maka ruhnya amal itu adalah ikhlas. Dengan keikhlasan yang terdapat di dalam amal perbuatan itulah orang bisa mengambil manfaatnya.

Firman Allah

وَمَا أُمِرُوْا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ وَيُقِيْمُوْا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 05).

Rasulallah Saw Bersabda:

اِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يَنْظُرُ اِلَى اَجْسَامِكُمْ وَلَا اِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ اِلَى قُلُوْبِكُمْ.

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan melihat bentuk badan kalian dan tidak pula rupa kalian, akan tetapi Dia langsung melihat kepada hati kalian (keikhlasan hati kalian). (HR. Muslim).

Adapun arti ikhlas itu berbeda beda menurut tingkatan orangnya.

1. Orang yang ahli ibadah, maka keikhlasan amalnya adalah bisa selamat dari sifat riya’ (menunjukkan amalnya agar menjadapt pujian), dan sifat ujub yaitu mengagumi amalnya sendiri. Dengan demikian amal ibadahnya itu hanya dimaksudkan untuk memperoleh pahala sebagaimana yang telah dijanjikan Allah dan menghindari siksaan-Nya. Dari pahala yang diperoleh itu dia mengharapkan surga dan diselamatkan dari neraka. Demikian ini tercermin dalam firman Allah:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ.

Hanya Engkaulah yang kami sembah. (QS. Al-fatihah: 05).

2. Keikhlasan  golongan “Muhibbin” yaitu orang orang yang mencintai Allah ialah beramal karena Allah dengan maksud mengangungkan Allah . jadi dia beramal bukan karena mengharapkan pahala dan bukan karena takut akan siksa-Nya. Sebagaimana yang pernah diucapkan oleh waliyullah Rabi’ah Al-Adawiyyah: “Saya tidak menyembah kepada-Mu karena takut neraka dan tidak pula karena mengharapkan surga, akan tetapi saya menyembah kepada-Mu semata mata hanya untuk mengagungkan-Mu”.

Kedua tingkatan ikhlas di atas itu merupakan amal perbuatan yang masih disandarkan kepada dirinya sendiri.

Al-Hikam 06 | Ruhnya Amal Adalah Ikhlas


3. Keikhlasan orang yang ma’rifat adalah mengerti bahwasannya Allah-lah yang menggerakkan atau mendiamkan dirinya. Sebab dirinya ini tidak mempunyai daya dan kekuatan sama sekali. Jadi dirinya tidak dapat beramal kecuali denganAllah, bukan karena dirinya sendiri. Sehingga orang yang demikian ini tidak mengandalkan amal perbuatannya. Sebagaimana tersebut dalam firmannya:

وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ.

Dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS. Al-Fatihah: 05).

Keikhlasan seperti ini termasuk tingkatan yang luhur dibanding denga kedua tingkatan sebelumnya.
Ikhlas di dalam setiap amal itu wajib, karena setiap amal yang tidak disertai keikhlasan tidak memberi manfaat sama sekali. Maka dari itu setiap orang yang beramal harus menggunakan  salah satu dari tiga tingkatan ikhlas. Apabila tidak disertai salah satu dari tiga macam tingkatan Ikhlas itu, maka amal perbuatannya disebut riya’, sedang riya’ itu hukumnya haram.




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel