Al-Hikam 03 | Kekuatan Semangat Tidak Bisa Menerobos Taqdir

Al-Hikam 03 | Kekuatan Semangat Tidak Bisa Menerobos Taqdir

سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَخْرِقُ اَسْوَارَ الْاَقْدَارِ اَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ.

Kekuatan semangat itu tidak bisa menerobos tirai kepastian yang telah ditaqdirkan oleh Allah. Karena itu tenangkanlah jiwamu dari urusan mengatur kebutuhan duniawi. Sebab apa yang telah disanggupkan oleh selain kamu yaitu Allah, maka janganlah kamu ikut memikirkannya. (Al-Hikam).

Setiap manusia telah mempunyai kepastian sendiri sendiri. Kepastian takdir itu tidak bisa diterobos oleh angan angan atau kekuatan semangat yang menyala. Jadi seandainya ada orang bercita cita dengan semangat yang tinggi untuk bekerja atau membuat sesuatu dengan maksud agar mendapat untung atau bisa tercukupi rizqinya, maka cita citanya itu tidak akan bisa menjebol kepastian qudroh azalinya. Sehingga dengan demikian orang tidak perlu banyak berangan angan mengenai masalah rizqinya. Sebab Allah sudah memberikan kepastian kepada hamba-Nya sebelum lahir.

Disinilah perlunya bagi setiap orang untuk menenangkan jiwanya dari berangan angan dalam masalah masalah yang beluam terjadi. Misalnya berangan angan mengenai kebutuhan makan besok atau bulan mendatang. Sebetulnya hal itu telah ditetapkan Allah sebelum manusia lahir, baik mengenai ajalnya, rizqinya, kenikmatannya dan celakanya. Usaha manusia dalam hal ini tidak bisa memberi bekas apapun sehingga tidak berfaedah sama sekali.

Jadi segala urusan manusia yanag telah disanggupi oleh Allah, janganlah mereka ikut memikirkannya, baik dalam urusan rizqi atau lainnya.

Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ اِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا.

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi ini melainkan Allahlah yang memberi rizqinya. (QS. Huud: 6).

وَمَا تَشَاءُوْنَ اِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ.

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwir: 29).

Apakah janji Allah yang telah tersirat dalam Al-Qur’an itu manusia tetap belum percaya? Cobalah bandingkan dengan janji yang diberikan oleh seorang raja atau penguasa. Hanya dengan tanda tangannya yang dibubuhkan di atas sebuah kertas, manusia penuh mempercayainya. Tetapi kalau janji datang dari Allah sebagaimana yang telah tertuang dalam ayat ayat Al-Quran, orang tidak begitu percaya. Padahal Allah adalah raja diraja, rajanya semua raja di alam semesta. Maka sungguh sungguh jelek orang demikian ini karena telah meletakkan imannya dalam keadaan begitu lemah, bahkan telah hilang dari dalam jiwanya.

Ketahuilah bahwa untuk menghilangkan angan angan dalam semua urusan yang belum terjadi karena ajakan hawa nafsu, orang haruslah ingat dalam sepuluh perkara:

1. Harus dimengerti bahwa sebelum manusia lahir segalanya telah ditetapkan oleh Allah, mengenai rizqi, ajal, baik dan buruknya nasib dan lain sebagainya.

Nabi Saw bersabda:

اِنَّ اَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ اُمِّهِ اَرْبَعِيْنَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسِلُ اِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَاَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ اَوْ سَعِيْدٌ.

Sesungguhnya setiap kalian ini dikumpulkan kejadiannya di dalam perut ibunya dalam empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal darah dalam empat puluh hari. Setelah itu berubah menjadi segumpal daging dalam empat puluh hari pula. Lalu diutuslah malaikat kepadanya seraya disuruh meniupkan ruh ke dalamnya serta diperintah untuk mencatat empat kalimat (ketetapan) yaitu ditulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya celaka atau bahagia. (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Supaya dimengerti bahwa mengangan angankan sesuatu yang belum terjadi itu merupakan suatu kebodohan karena tidak adanya pengertian bahwa sesungguhnya Allah telah menjamin hambanya yang mau bertawakal kepada-Nya. Firman Allah

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (keperluannya). (QS Ath-Thalaq).

3. Supaya dimengerti bahwa takdir Allah itu tidak akan terpengaruh oleh suatu usaha dalam mencapai apa apa yang belum terjadi. Sebaliknya sesuatu yang telah terjadi pada diri seorang itu kadang kadang tidak terpikirkan sebelumnya.

4. Supaya dimengerti bahwa Allah adalah dzat yang maha Memerintah. Semua yang ada di alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya. Semuanya menyerahkan diri kepada-Nya. Sehingga dengan demikian orang harus mau menerima apa yang telah menjadi kebijaksanaan Allah.

5. Supaya dimengerti bahwa jiwa dan raga manusia ini milik Alah bukan milik sendiri. Karena bukan miliknya, maka orang tidak boleh mengkira-kirakan dirinya, sebab hal seperti itu bisa disebut ghasab. Yaitu memakai atau memanfaatkan sesuatu barang yang bukan miliknya tanpa ijin. Yang berhak mengkira kirakan kecukupan seseorang hanyalah Allah.

6. Supaya dimengerti bahwa manusia di dunia ini sebagai tamu Allah. Manusia hanya mampir sebentar di dunia. Jadi bagi manusia yang berkedudukan sebagai tamu itu tidak usah ikut memikirkan jamuan. Semua jamuan telah dipikirkan Allah sendiri. Jamuan itulah yang menjadi kelengkapan kebutuhan di dunia bagi manusia.

7. Supaya dimengerti bahwa Allah adalah dzat yang mengurus segala urusan makhluknya. Artinya mengurus hamba-Nya di dunia dan akhirat. Di dunia Allah memberikan riziqi dan di akhirat membalas semua amal kebajikan dengan pahala. Dengan pengertian seperti ini manusia wajib berserah diri kepada Allah.

8. Supaya orang itu harus mengisi waktunya untuk beribadah kepada Allah hingga mati. Sebagaimana firman Allah

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ.

 Dan sembahlah tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr: 99).

Orang yang telah bisa menyibukkan diri beribadah hingga matinya, maka dia bisa terhindar dari angan angan mengenai urusan dunianya yang akan datang.

9. Supaya dimengerti bahwa manusia itu sebagai hamba Allah. Jadi mempunyai tugas selalu tunduk dan mengikuti perintah perintah Allah. Dengan demikian Allah akan memperkirakan kecukupannya dalam sehari hari.

10. Supaya dimengerti nahwa manusia tidak mengerti akhir dari semua perkara yang terjadi, kadang kadang suatu perkara itu di sangka baik dan bermanfaat akan tetapi ternyata membawa kemelaratan. Begitu pula sebaliknya.

Ketahuilah bahwa keluarnya seseorang dari angan angan mengenai urusan duniawinya yang belum terjadi dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Allah itu termasuk semulia mulianya ibadah. Dan sesungguhnya mengandalkan ikhtiarnya sendiri serta angan angannya dalam mengatur urusan dunianya termasuk kecelakaan yang besar. Ingatlah peristiwa yang menimpa pada putera Nabi Nuh. Dia hingga mati kafir karena angan angan dan pengaturannya sendiri, melupakan pengaturan Allah.

Oleh sebab itu Syaikh Ahmad bin Athaillah berkata:

اِجْتِهَادُكً فِيْمَا ضَمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ.

Ketekunan di dalam mencapai apa yang telah di tanggung oleh Allah dan kelalaianmu di dalam apa yang telah di perintahkan kepadamu menunjukkan atas kebutaan hatimu.

Jadi orang yang hanya giat mencari rizqi dengan mengabaikan perintah perintah Allah yang menjadi kewajibannya merupakan suatu pertanda bahwa hatinya telah buta. Sebab dalam Al-qur’an Allah telah menjamin rizqi setiap makhlik-Nya. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَاِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizqinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizqi kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Mana Mengetahui. (QS. Al-Ankabut: 60)

Al-Hikam 03 | Kekuatan Semangat Tidak Bisa Menerobos Taqdir


Disamping itu memang kewajiban manusa di dunia adalah beribadah.
Sebagaimana firman Allah:

وَمَا خَلَقْتَ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku. (QS Adz-Dzariyat: 56).

Alah Swt telah bersabda dalam hadist Qudsi:

عَبْدِى أَطِعْنِى فِيْمَا اَمَرْتُكَ وَلَا تُعَلِّمْنِي بِمَا يَصْلُحُكَ.

Hambaku, taatlah kepada-Ku di dalam apa yang Aku telah perintahkan kepadamu, dan janganlah memberitahukan kepada-Ku apa yang baik baginkamu.

Dari uraian di atas dapatlah diketahui bahwa karena Allah telah menjamin manusia dalam hidupnya, maka Allah menuntut kepada manusia agar tidak selalu mengabaikan perintah perintah-Nya. Wallahualam. Mohamad Nurofik 


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel