Al-Hikam 01 | Tanda Orang Mengandalkan Amal

Al-Hikam 01 | Tanda Orang Mengandalkan Amal 

مِنْ عَلَامَةِ الْاِعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُوْدِ الزَّلَلِ.

Diantara tanda tanda orang yang mengandalkan amal perbuatannya adalah kurang adanya pengharapan kepada rahmat Allah sewaktu terjadi kesalahan pada dirinya. (Al-Hikam)

Manusia tidak bisa lepas dari potensi berbuat kesalahan, semua orang bahkan diri kita sendiri pasti pernah melakukan kesalahan, entah sengaja ataupun tidak disengaja. Kecuali Rasulallah Saw karena beliau adalah orang yang maksum, yaitu orang yang selalu dijaga dari berbagai dosa.

Karena sifat manusia yang demikian itu, maka kita sebagai umat manusia diwajibkan untuk selalu mengharap rahmat Allah dan ampunan Nya. Jangan sekali kali enggan mengharapkan rahmat-Nya walaupun kita berbuat salah. Keengganan dan kurang adanya pengharapan seseorang akan rahmat Allah setelah menjalankan kesalahan itu merupakan suatu pertanda dia hanya mengandalkan amal perbuatannya sendiri, mengenyampingkan sifat Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Seharusnya orang yang berbuat dosa atau menjalankan kesalahan malah membuat seseorang tersebut giat mengabdi kepada Allah, serta mengharap ampunan-Nya sebanyak banyaknya.

Orang yang berhenti berharap kepada Allah ketika dia menjalankan kesalahan atau dosa adalah sesuatu yang kurang baik, karena tanpa tersadari kalimat itu mengajarkan hilangnya makna sifat Allah maha pengampun, maha pengasih, dan penyayang, yang mana sifat Allah tersebut berlaku untuk semua orang, tanpa terkecuali orang yang melakukan kesalahan atau dosa, dan berlakunya sifat Allah tersebut selamnya.

Suatu misal, banyak orang yang berbuat dosa lalu beranggapan bahwa Allah tidak akan memberi ampunan kepadanya dan tidak akan memasukkannya ke surga, anggapan seperti itu tidaklah benar, karena bisa menyebabkan orang putus asa sehingga berkurangnya pengharapan kepada rahmat Allah.
Allah berfirman

 وَلَا تَيْئَسُوْا مِنْ رَوْحِ اللهِ اِنَّهُ لَا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُوْنَ.

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS. Yusuf Ayat 87).

Demikian pula wajib bagi orang yang menjalankan ketaatan kepada Allah, jangan sekali kali beranggapan bahwa dirinya termasuk orang “ahli taat”. Jangan pula beranggapan bahwa ketaatannya bisa mendekatkan dirinya dengan Allah dan dapat menyebabkan masuk surga. Anggapan tersebutlah yang dimaksud nafsu yag samar (tidak terlihat). Seharusnya anggapan yang muncul ketika kita bisa menjalankan ketaatan adalah rasa sykur kita kepada Allah telah diberi anugrah berupa bisa menjalankan ketaaatan kepada-Nya. Karena memang sesungguhnya semua terjadi atas rahmat Allah semata, tanpa anugrah Allah mustahil seseorang bisa menjalankan ketaatan kepada Allah.  Jik kita mempunya anggapan seperti itu, pasti kita terhindar dari congkak dan sombong dan pasti terhindar dari nafsu yang samar.

Mengingat peristiwa yan terjadi pada iblis dan Qarun. Iblis diperintahkan oleh Allah agar bersujud kepada Nabi Adam, karena iblis menganggap dirinya lebih baik dari Nabi Adam, iblis menolak perintah Allah, padahal semestinya dia harus ingat bahwa kelebihan darinya menurut anggapannya semata mata karena adanya anugerah dari Allah. Karena perilaku iblis yang demikian itulah akhirnya dia dilaknat oleh Allah selama lamanya.

Qarunpun demikian juga. Dia melang melintang melanggar hukum Allah dengan kekayaannya, karena beranggapan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu berkat kepandaiannya dalam ilmu kimia. Dia lupa bahwa ilmu kimia yang dimiliki itu sebenarnya adalah anugrah Allah. Tanpa anugerah-Nya, mustahil orang dapat berbuat sesuatu. Perhatikan firman Allah yang berkenaan dengan Nabi Sulaiman berikut ini:

قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ اَنَا ءَاتِيْكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَاهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّ لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيْمٌ.

Berkata seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matahari berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, iapun berkata. “ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakan, aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia beryukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. (QS. An-Naml Ayat 40).

Al-Hikam 01 | Tanda Orang Mengandalkan Amal


Oleh sebab itu kewajiban bagi setiap orang yang menjalankan maksiat agar memperbanyak ibadahnya, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Sebaiknya bagi orang yang selalu taat menjalankan perintah Allah tidak patut mengharapkan pahala dari amal taatnya. Sebab manusia bukanlah yang menjadikan amal perbuatannya, melainkan Allah-lah yan menjadikan amalnya itu. Jadi yang mesti dilakukan oleh orang yang telah menjalankan ketaatan adalah memperbanyak rasa syukur kepada-Nya karena tidak dijadikan sebagai orang yang ahli maksiat.

Selalu bersandar kepada Allah adalah sifat orang yang ma’rifat. Sedangbersandar kepada selain Allah adalah sifat orang bodoh yang lupa kepada-Nya. Mohamad Nurofik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel