Pembagian, Pengertian, Dan kehujjahan Hadits

Pembagian, Pengertian, Dan kehujjahan Hadits

Secara umum hadits terbagi tiga; berdasarkan kuantitas, berdasarkan kualitas dan berdasarkan penyandaran sanadnya. Disamping itu ada klafisikasi lain sesuai dimensinya masing-masing.
Pertama, Pembagian Hadits Berdasarkan Kuantitas (Jumlah Rawi)

Pembagian hadits berdasarkan jumlah rawinya ada dua, yakni Hadits Mutawatir dan Hadits Ahad.
Hadits mutawatir menurut bahasa adalah Mutataabi yaitu beruntun atau beriringan. Sedangkan menurut istilah adalah Hadits yang pada setiap thabaqah, generasi, atau tingkatan diriwayatkan oleh sejumlah banyak perawi yang menurut adat mustahil mereka sepakat untuk berdusta, mulai awal akhir mata rantai sanadnya bersambung hingga kepada Nabi. Kriteria Hadits Mutawatir; Pertama, bila ada tingkatan generasi pertama diriwayatkan oleh sejumlah besar parawi minimal 5 orang menurut Syafi’iyah. Kedua, pada tingkatan generasi selanjutnya harus juga seimbang jumlah parawinya. Ketiga, dalam pariwayatan Hadits harus berdasarkan tanggapan pancaindera, baik melalui pengendaran, pengeliatan, atau berjumpa. Sebaliknya, pariwayatan melalui pemikiran akal (logika) tidaklah disebut sebagai Mutawatir.

Hadits Mutawatir terbagi tiga;

Pertama, Hadits Mutawatir lafad adalah Hadits yang pariwayatan redaksi atau lafadnya sama. Contoh Hadits yang diriwayatkan oleh 40 sahabat dalam kitab Bukhari No. 1209 mengenai berdusta atas nama Nabi. Kedua, Hadits Mutawatir Ma’nawi adalah Hadits yang sama periwayatan maknanya namun tidak dengan lafadnya. Contoh Hadits yang diriwayatkan oleh 100 sahabat dalam kitab bukhari Nomer 973 mengenai mengankat tangan saat berdoa. Dan ketiga, Hadits Mutawatir amali, menurut Zuhdi Rifa’i adalah Hadis terkait dengan perbuatan Nabi yang disaksikan para sahabat, diteruskam juga oleh generasi setelahnya dengan tanpa ada perbedaan. Contohnya adalah berta-berita yang menerangkan waktu dan rakaat shalat, shalat jenazah, shalat ‘ied, dan sebagainya.

Ke-hujjah-an Hadits Mutawatir wajib diterima dan diamalkan karena sudah dapat dipastikan secara menyakinkan bahwa Hadits ini berasal dari Nabi.

Hadits Ahad adalah Hadits yang jumlah perawinya tidak tercapai jumlah Hadits Mutawatir. Ia dibagi tiga; pertama, Hadits Masyhur adalah Hadits yang tidak diriwayatkan oleh banyak perawi namun sudah dikenal, dan terbesar pada tingkatan periwayatannya. Kedua, Hadits ‘Aziz adalah Hadits yang perawinya tidak kurang dari dua orang dalam semua tingkatan generasi sanad. Dan ketiga, Hadits Gharib adalah Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi yang menyendiri dalam meriwayatkan dalam setiap tingkatannya.

Kedua, pembagian Hadits berdasarkan kualitas (isi Hadits) pembagian Hadits berdasarkan kualitasnya ada dua, yakni Shahih, dan Dha’if.

Hadits Shahih menurut istilah, sekaligus ini merupakan syarat Hadits Shahih, adalah (a) Hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang adil, (b)sempurna ingatan, (c) sanadnya bersambung hingga kepada Nabi, (d) tidak ber-‘illat atau cacat, (e) dan tidak janggal serta selamat lafadnya dari bertentangan dan maknanya tidak berselisih dengan ayat Al-Qur’an atau Khabar Mutawatir. Ia dibagi dua; pertama, shahih li-dzati yaitu Hadits maqbul secara sempurna. Dan kedua, shahih li-ghoirih, yaitu Hadits yang tidak mengenuhi secara sempurna syarat-syarat tertinggi dari sifat sebuah Hadits maqbul.

Ke-hujjah-an Hadits Shahih yang telah memenuhi persratan wajib diamalakan secara mutlak sebagai hujjah atau dalil syara’ sesuai ijma’ para ulama. Perlu diperhatikan, Hadits Mutawatir pasti merupakan Hadits Shahih secara sanadnya (qath’i al-wurud), namun tidak semua hadits  Mutawatir dan Hadits Shahih dapat dijadikan hujjah syariat, karena ke-hujjah-an juga mempertimbangkan qath’i al-dalalah.

Hadits Hasan adalah Hadits yang diriwayatkan oleh para rawi yang adil, dhabith akan tetapi kedhabitatnya tidak sempurna, sanadnya bersambung dan tidak ditemukan di dalam cacat serta tidak terdapat kejanggalan. Syarat Hadits hampir sama dengan Hadits shahih namun berbeda pada rendahnya tingkat kedhabitan para rawinya. Misalnya, kurang kuat hafalanya, daya ingatnya kurang kuat dan sebagainya. Ini terbagi dua; pertama, hasan li-dzatihi yaitu Hadits yang sanadnya bersambung dengan periwayatan yang adil, dhabit meskipun tidak sempurna. Dan kedua, hasan il-ghairihi yaitu Hadits yang pada awalnya dha’if, namun karena adanya Hadits sejenis dengan sanad yang berbeda, mengangkat drajat Hadits dha’if menjadi Hasan li-gairihi.

Hadits Dha’if menurut bahasa adalah yang lemah, lawanya “qawi”, yang kuat. Menurut istilah, terdapat perbedaan rumusan dalam mendefinisikannya, tapi esensinya sama. An-Nawawi mendefinsikan dengan “Hadits yang didalamnya tidak dapat syarat-syarat Hadits shahih dan syarat-syarat Hadits hasan”.

Menurut Zuhdi Rifa’i, sebuah Hadits dikatakan dha’if bila telah memenuhi syarat berikut; (a) ada sebuah Hadits yang tidak tersambung sanadnya, (b) atau ada sebagian rawinya yang tidak adil, (c) atau ada sebagian rawi dalam Hadits yang tidak dhabith, (d) atau Haditsnya mengandung ilat (penyakit), (e) dan atau Haditsnya bertentangan dengan Hadits lain (syadz). Hadits dha’if dibagi menjadi dua kelompok besar;

Kelompok Hadits dha’if kerena gugur rawi dalam sanadnya;

Yang dimaksud dengan gugurnya rawi adalah tidak adanya satu atau beberapa rawi, yang seharusnya ada dalam suatu sanad, baik pada permulaan sanad, maupun pada pertengahan atau akhirnya. Jenis Hadits dha’if ini ada empat; pertama, Hadits Mursal, yakni Hadits yang rawinya gugur pada tingkat sahabat atau diakhir sanad. Jadi, Hadits mursal adalah Hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasullullah.

Kedua, Hadits Munqathi’, yaitu Hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa berturut-turut pada tingkat tabi’in atau menjelang akhir sanad. Jadi, Hadits Munqthi’ adalah Hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan tabi’in Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. Ketiga, Hadits mu’dhal yaitu Hadist yang gugur dua orang rawinya, atau lebih, secara berturut-turut dalam sanadnya. Dan keempat, Hadits mu’allaq, yang menurut bahasa berarti Hadits yang tergantung. Batasan para ulama tentang Hadits ini ialah Hadits yang gugur satu rawi atau lebih di awal sanad atau bisa juga bila semua rawinya digugurkan atau tidak disebut.

Golongan Hadits Dha’if karena cacat pada rawi atau matanya
Banya macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan, seperti pendusta, fasiq, tidak dikanal, sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalanya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya. Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada parawi. Jenis Hadits dha’if ini ada tujuh; pertama, Hadits Maudhu’ (palsu), yaitu Hadits yang bukan berasal dari Rasulullah SAW. Akan tetapi disandarkan kepada dirinya. Kedua , Hadits matruk atau ditinggalkan atau dibuang, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta atau pernah melakukan maksiat, lalai, atau banyak wahamnya.

Ketiga, Hadits Munkar atau diingkari, yaitu Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang lemah dan menyalahi perawi yang kuat. Keempat, Hadits Mu’allal atau terkena penyakit yaitu Hadits yang mengandung sebab tersembunyi, dan ilat yang menjatuhkan baik pada sanad, matan, ataupun keduannya. Kelima, Hadits Mudraj(terdapat disimpan ), Hadits yang dimasuki sisipan, yang sebenarnya bukan bagian dari Hadits itu. Keenam, Hadits Maqlub (diputar balikan), Hadits yang mengalami memutar balikan pada matanya atau pada nama rawi dalam sanadnya atau menukaran suatu sanad untuk matan yang lain. Ketujuh, Hadits Syadz (ganjil), Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya, tapi Hadits itu perlainan dengan Hadits-Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya.

Ke-hujjah-an Hadits Dha’if ada tiga kelompok besar dengan perbedaan pandangan dalam masalah ini. Pertama, kalangan yang menolak Hadits Dha’if secara mutlak, baik untuk masalah Aqidah, Syariat, keutamaan alam, kisah-kisah, nasehat atau peringatan. Kedua, kalangan yang menerima Hadits Dha’if secara Mutlak selama tidak parah. Ketiga, kalangan yang menerima Hadits Dha’if dengan syarat; Hadits Dha’if itu tidak terlalu parah ke Dha’if-annya. Hadits itu punya asal yang menaungi dibawahnya. Hadits itu hanya seputar masalah nasehat, kisah-kisah, atau anjuran amal tambahan. Bukan dalam masalah aqidah dan sifat Allah, juga bukan masalah hukum. Dan ketika mengamalkannya jangan disertai keyakinan atas Wurudnya Hadits itu, melainkan sekedar berhati-hati.

Ketiga, Pembagian Hadits Berdasarkan Penyandaran Sanad 

Pembagian Hadits dari segi kepada siapa Hadits itu disandarkan terbagi menjadi empat: Hadits Maukuf’, Hadits Maqtu’, dan Hadits Qudsi.

Hadits marfu’ adalah Hadits yang sanadnya berujung langsung kepada Rasululah SAW. Definisi ini memungkinkan Hadits Muttashil, Mu’allaq, Mursal, Munqathi, dan Mudhlal, menjadi Marfu’. Adapun HaditsMauquf dan Maqthu’, tidak dapat marfu’ bila tidak dapat qarinah yang me-marfu-kanya. Dengan demikian, dapat diambil ketetapan bahwa tiap-tiap Hadits Marfu’ itu tidak selamanya bernilai shahih atau hasan, tetapi setiap Hadits shahih atau hasan, tentu marfu’ atau dihukumi marfu’.
Hadits Mauquf adalah Hadits yang sanadnya terhenti pada sahabat Nabi dan tidak memiliki tanda-tanda marfu’. Adapun hukum Hadits mauquf, pada prinsipnya, tidak dapat dibuat hujjah, kecuali ada qarinah yang menunjukan (yang menjadikan marfu’). Hadits Mauquf dibagi menjadi; Mauquf qauli, Mauquf fi’il, dan Mauquf taqriri.

Hadits Maqtu’ adalah Hadist yang sanadnya terhenti kepada para tabi’in (orang yang pernah bertemu sahabat Nabi). Dilihat dari sandarannya, Hadits ini termasuk Hadits yang lemah, karena tidak dapat dijadikan hujjah.

Hadits Qudsi adalah Hadits yang disandarkan kepada Allah. Maksudnya adalah Hadits yang disampaikan melalui mata rantai sanad, tetapi Nabi menyapaikannya dengan mengatas namakan Allah dengan mengatakan “Allah Azza Wajalla berfirman:’’.

Keempat, pembagian Hadits berdasarkan kedudukan dalam berhujjah Hadits ditinjau dari segi kehujjahan ada Hadits Maqbul dan Hadits Mardud.

Hadits Maqbul adalah bahasa berarti diambil, yang diterima, dan yang dibenarkan. Sedangkan menurut istilah adalah “Hadits yang menunjuki suatu keterangan bahwa Nabi SAW.

Menyabdakannya. “Jumhur ulama berpendapat bahwa Hadits maqbul ini wajib diterima. Sedangkan yang termasuk dalam katagori Hadits maqbul adalah: Hadits shahih, baik yang lidzatihi maupun yang lighairihi. Hadits hasan baik yang lidzatihi maupun lighairihi.

Apabila ditinjaudari segi kemakmuranya, maka Hadits maqbul dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni: pertama Hadits maqbulun bihi yakni Hadits yang dapat diamalkan apabila termasuk Hadits berkatagori Hadits muhkamat, Hadits mukhtalif, Hadits nasikh, dan Hadits rajih. Kedua Hadits ghairu maqbulin bihi yakni Hadits yang tidak dapat amalkan apabila termasuk Hadits berkatagori Hadits mutawaqaf, Hadits mansukh, Hadits marjuh, dan Hadits mutasyabihat.

Hadits Mardud menurut bahasa berarti yang ditolak; yang tidak diterima. Sedangkan menurut istilah adalah “Hadits yang tidak terdapat di dalamnya sifat Hadits maqbul”. Di antara Hadits yang tidak dapat diamalkan adalah Hadits palsu dan Hadits dha’if yang terlalu parah kelemahannya.
Kelima, Pembagian Hadits berdasarkan makna Dzahirnya
Ditinjau dari makna dzahirnya, Hadits dibagi menjadi dua yaitu, Hadits Muhkamat dan Hadits Mukhtalif.

Hadits Muhkamat menurut bahasa menyakinkan(atqana). Sedangkan menurut istilah adalah Hadits yang selamat dari berbagi pertentangan (mukhtalif/taarud) dengan Hadits lain yang derajatnya mencapai semisalnya. Hadits ini maqbul sehingga dapat diterima sebagai hujjah syariat.
Hadits Mukhtalif menurut bahasa pertentangan. Sedangkan menurut istilah adalah Hadits yang maknanya dzahirnya saling kontradiksi, bertentangan, atau menyelisihi antara satu Hadits dengan yang lainya, dari sisi derajat Haditsnya, misalnya sama-sama shahih, dan lain sebagainya. Walaupun dalam hal ini pembahasanya terkait dengan Hadits, namun faktanya juga terjadi di dalam ayat juga. Sebagaimana firman Allah SWT.

وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللهِ لَوَجَدُوْا فِيْهِ اخْتِلَافًا كَثِيْرًا

“Kalau kiranya Al-Qur’an bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamya. “(QS. An-Nisa’[4]: 82)

Dari ayat di atas dapat ditarik pemahaman terbaliknya bahwa didalam ayat maupun Hadits juga terjadi pertentangan walaupun pertentangan tersebut jumlahnya tidak banyak.

Hadits Mukhtalif terbagi menjadi dua macam; pertama: Mukhtaliful Hadits yang mungkin untuk di padukan, yang mana kedua-keduanya bisa diamalkan.

Contoh seperti kontradisi antara Hadits:

لَاعَدْوَى وَلَاطِيَرَةَ وَيُعْجِبُنِيْ الْفَأْلُ الْصَّالِحُ الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ.

“Tidak ada ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sehingga tidak jadi beramal), dan yang menakjubkanku adalah al fa’lu yang baik yaitu kalimat yang baik”. (HR.Bukhari No. 5315 Dan Muslim No. 4120)

Hadits di atas bertentangan dengan makna Hadits berikut:

لَا تُوْرِدُوْا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ.

“Janganlah kalian mencampurkan antara sakit dengan yang sesat. “(HR. Buhkari No. 5330)

وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَاَk تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

“Menjaulah (menghindarlah) dari penyakit kusta sebagaimana enkau menjauh dari singa. “(HR. Bukhari)

Kedua makna dzahir Hadits diatas yang saling bertentangan dapat dipadukan bahwa Nabi menolak mitos orang Arab Jahiliyah bahwa penularan penyakit itu sebab percampuran yang sehat dengan yang sakit, karena faktanya tidak semua yang sehat dapat tertular penyakit dari yang sakit, sebagaimana dokter yang tidak tertular walupun sehari-harinya berkumpul dengan orang sakit. Dalam Hadits di atas Nabi hanya ingin menegaskan bahwa tertularnya penyakit bukan karena mitos, melainkan karena faktor izin Allah dan karena secara ilmiyah faktor-faktor terjadinya penularan ada seperti ketahanan tubuhnya sedang menurun.



Kedua: Hadits Mukhtalif yang tidak bisa dipadukan ada dua jenis; pertama; dua Hadits yang bertentangan namun ada qarinah bahwa salah satunya sebagai Nasikh yang menghapuskan Hadits yang datang pertama, dan yang lain berkendudukan sebagai Mansukh yang di hapus oleh Hadits yang datang kedua. Maka pada kondisi yang seperti ini kita mengamalkan Hadits yang Nasikh dan meninggalkan yang Mansukh. Kedua; Hadits yang bertentangan namun tidak ada indikator bahwa salah satu di antara kedua Hadits tersebut berkendudukan sebagai Nasikh dan yang lainya Mansukh. Maka pada kondisi seperti ini dapat diperlakukan metode tarjih (menguatkan atau memilih yang paling kuat di antara kedua Hadits tersebut), lalu mengamalkan Hadits yang lebih kuat di antara keduanya dan yang lebih valid.

Pembahasan ini memiliki faidah bahwa bagi mereka yang hendak menggali hukum-hukum syariat tidak bisa menghidari dari mempelajari Hadits yang bersifat mukhtalif. Tanpa memahami pembahasan ini maka hasil ijtihadnya akan batal karena akan banyak menimbulkan dampak syubhat syariat.

Keenam, pembagian Hadits berdasarkan kesamaran maknanya pembahasan pembagian Hadits berdasarkan kesamaran makna zahirnya tidak ada bedanya dengan pembahasan ayat-ayat Muhkamat dan Hadits Mutasyabihat. Hadits dibagi menjadi dua yaitu, Hadits Muhkamat dan Hadits Mutasyabihat.

Hadits Mukamat adalah Hadits yang maknanya super jelas dan sudah jelas maksudnya walaupun tanpa dijelaskan dengan ayat-ayat yang lain. Dengan begitu Hadits Muhkamat termasuk Hadits yang maknanya rasional, artinya dengan akal manusia saja pengertian ayat itu dapat ditangkap.
Hadits Mutasyabihat ialah Hadits yang masih memerlukan penjelasan dari dalil yang lain karena maknanya masih samr-samar. Dengan kata lain Hadits Mutasyabihat adalah Hadits yang maknanya simpang siur yang belum jelas makna dan maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan ta’wilnya.

Pembagian, Pengertian, Dan kehujjahan Hadits


Kehujjahan Hadits Muhkamat dan Mutasyabihat; Hadits Muhkamat wajib diamalkan secara qath’i hal ini disebabkan karena Hadits Muhkamat sudah tidak berpulang mengandung makna lain selain makna sesuai dengan dzahirnya Hadits. Sedangkan Hadits mutasyabihat wajib dimauqufkan alias dikembalikan kepada Allah dan Nabi sebagai pembuat syariat selama tidak ada qarinah lain yang kuat, yang dapat memalingkan dan menghilangkan kesimpang siuran makna dari Hadits Mutasyabihat tersebut. Karena bilamana dipaksa untuk diamalkan maka akan menimbulkan fitnah agama dan perpecahan antar umat islam. Larangan menggunakan ayat-ayat mutasyabihat dan juga termasuk Hadits-Hadits mutasyabihat sebagai hujjah syariat berdasarkan firman Allah SWT.

“Dialah yang menurunkan (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)-nya ada ayat-ayat yang mukamah, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an, dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah.(QS. Ali ‘Imran[3]: 7)

Contoh Hadits mutasyabihat dan efek timbulya fitnah agama:

اِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبُ الْوَجْهَ فَاِنَّ اللهَ خَلَقَ اَدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ

“Apabila salah seorang darimu berkelahi dengan saudaranya yang muslim, maka hendaklah ia mengendari bagian wajah, karena Allah telah menciptakan Adam dengan rupa dan bentuk wajah-nya (wajah Adam mirim wajah Allah). ‘”(HR. Muslim No. 4731)

Di sinilah alasan kenapa Allah SWT. Melarang menggunakan nash mutasyabihat sebagai hujjah syariat, disebabkan akan semakin banyak menimbulkan fitnah agama. Perhatikan kekacauan dan silang pendapat antara para ulama ahli dalam menyikapi Hadits mutasyabihat tersebut;
Pemahaman manusia dalam menyikapi Hadits ini ada tiga kelompok. Kelompok pertama, tidak mempertayakan tafsirnya dengan mengembalikan sepenuhnya kepada pembuat syariat. Kelompok ini hanya menyakini bahwa apa yang disampaikan Nabi dalam Hadits tersebut dalam sesuatu yang haq tanpa membayangkan apa maksudnya. Kelompok ini seperti yang dianut oleh Imam Malik.

Kelompok kedua, mempertayakan maksud dan tujuan. Kelompok kedua ini menyakini bahwa yang disampaikan oleh Nabi dalam Hadits tersebut dalam sesuatu yang haq secara batinya saja, karena keyakinan mereka mustahil bagi sifat Allah wajahnya sama denagn wajah Adam. Kelompok ini seperti yang dianut oleh Imam Asy’ari.

Kelompok ketiga, menyakini maksud dan tujuan Hadits tersebut secara dzahirnya saja. Kelompok kedua ini menyakini bahwa yang disampaikan oleh Nabi dalam Hadits tersebut sesuatu yang haq secara dzahirnya saja, sehingga mereka menyakini bahwamemang wajah Allah serupa dengan wajah Adam karena memang Nabi sebagai pembuat syariat sendiri yang telah menyampaikanya. Mustahil bagi sifat Nabi menyampaikan pendustaan. Pemahaman ini diyakini oleh para penganut Ibnu Taimiyah yang mereka menyebut dirinya sebagai golongan Salafiyun.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dari perbedaan jenis Hadits juga dapat mempengaruhi kedudukan Hadits tersebut dalam syariat islam, ada yang dapat di terima (maqbul) sebagai hujjah syariat, dan juga ada yang ditolak (mardud) sebagai hujjah syariat. Oleh karena itu untuk dapat menentukan apakah sebuah Hadits dapat diterima sebagai hujjah syariat atau tidak, tentunya harus mempelajari dan mendalami ilmu Hadits.


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel