Kehujjahan Al-Qur’an Secara Ilmiah

Kehujjahan Al-Qur’an Secara Ilmiah 

Tidak fair rupanya keontentikan Al-Qur’an hanya berdasar pada klaim dari pihak-pihak yang memang menyakininya. Kita coba menyodorkan fakta-fakta otentik patahnya upaya pelemahan Al-Qur’an dari kaum orientalis.

Pertama, perbedaan redaksi Al-Qur’an dengan redaksi hadits 

Perbedaan redaksi Al-Qur’an dengan Hadits menunjukan Al-Qur’an benar-benar berasal bukan dari karangan Nabi. Seandaiya Al-Qur’an merupakan karangan Nabi sendiri semestinya antara Al-Qur’an dan Hadits redaksinya identik, padahal keyataanya redaksi keduanya sangat berbeda jahuh.

Kedua, Penulisan Mushhaf Al-Qur’an 

Qurays Shihab mengemukakan bahwa peroses pembukaan Al-Qur’an di lakukan secara ketat oleh sebuah tim ahli yang di ketahui oleh Zaid ibn Tsabit atas petunjuk Abu Bakar  dan Umar bin Khattab. Semua sahabat pengafal dan naskah Al-Qur’an dikumpulkan untuk di seleksi dengan berapa kriteria. Pertama, harus sesui dengan pengafal para sahabat lainya. Kedua, tulisan tersebut benar-benar adalah yang di tulis atas perintah dan hadapan Nabi SAW. Ketiga, diharuskan adanya dua orang saksi mata.

Ketiga, Al-Qur’an Selalu Lolos Dari Distorsi Pihak Lawan 

Pelemahan atas kedudukan Al-Qur’an saat Nabi SAW. Hidup terjadi seiring munculnya Musailamah al- Kaddzab. Walaupun Nabi SAW. Tidak terlalu menanggapi rongronganya, namun akhirnya pengaruh Musailamah al-Kaddzab lambat laun menurun sendiri disebabkan karena melihat ayat-ayat yang di susun Musailamah semakin hari terlihat semakin tidak berkualitas.

Berikut salah satu ayat yang terasa sebgai syair terkadang makna Ilahiyah di dalamnya, “Gajah, apa itu gajah? Dan tahukah engkau apa itu gajah? Ia memiliki  ekor yang pendek dan belalai yang panjang”

Upaya pendistorsian tehadap kedudukan Al-Qur’an terus melajut hingga pada zaman kekhalifahan Abu Bakar ra. Namu sayangnya usaha yang di lakukan Musailamah sebagai pimpinan, ajaran agamanya lambat laun semakin melemah. Padahal seharusnya bila sebuah ajran agama memang benar datanganya dari Tuhan, niscya ajaran agamanya akan terus berkembang walaupun Nabinya sedah meninggal.

Rupanya upaya pendistorisian keotentikan Al-Qur’an terus berlanjut hingga era moderen, berbagi macam kajian dilakukan baik yang bersifat hasutan maupun yang bersifat ilmiah. Di antara upaya tersebut adalah;

Anggapun pertama, bahwa Nabi SAW. Menerima Al-Qur’an dari seorang pendeta yang bernama Buhari. Fakta bantahanya adalah Rasulullah SAW. Pergi ke Syam hanya dua kali, yang pertama bersama pamanya, Abu Thalib, dan ketika itu beliau masih kecil  dan yang kedua bersama Maisaroh, pembantu Siti Khadijah, untuk berdagang. . anggapan kedua bahwa Al-Qur’an ini dari ajaran Zibr ar-Rumi, dan Rasul belajar darinya di Mekkah. Tuduhan ini telah di jawab oleh Allah sendiri dengan hujjah yang mantap. Allah SWT. Berfirman,

“’’Dan sesungguhnya  kami mengetahui mereke berkata: “Sesunggunhya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya adalah bahasa ‘Ajam, sedang Al-Qur’an adalah dalam bahasa arab yang terang. (QS. an-Nahl[16]:103)

Kehujjahan Al-Qur’an Secara Ilmiah


Dan masih banyak lagi usha untuk melemahkan kedudukan Al-Qur’an sebagai kalam Ilahi. Namun apapun usaha mereka, teryata tidak mampu mematahkan kekuatan Al-Qur’an. Sebaliknya, tidak ada satupun yang dapat mebandinginya terkait dengan pengaruhnya terhadap umat manusia, bahkan upaya pelemahan Al-Qur’an oleh kaum orientalis berat pun juga mendapat tantangan dari kalangan mereka sendiri yang telah menemukan kebenaran al –Qur’an semakin menunjukan bahwa Al-Qur’an secara qath’i al-Wurud benar-benar berasal dari Allah.

Semoga ilmu di atas bisa bermanfaat dan membawa barokah untuk kita semua.

Irvan Rizky Ramadhan LDSI Online

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel