Dalil Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman

Dalil Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman

Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman menjadi salah satu kebiasaan di masyarakat, hal tersebut menjadi sebuah runtutan kegiatan yang dilakukan ketika ada sebuah kematian saudara muslimnya. Setelah jenazah atau mayat diturunkan ke ling lahat, sebelum di tutup dengan papan kayu dan kemudian tanah, maka sebelumnya jenazah tersebut di adzan dan iqomahi.

Kagiatan tersebut rata dilakukan di masyarakat, apalagi di kalangan Nahdliyin, hal tersebut sudah seolah menjadi runtutan kegiatan yang harus dilakukan ketika ada kematian. Melihat hal tersebut, pasti sebuah amalan seperti Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman harus diperkuat dengan landasan, agar hal tersebut bisa menjadi sebuah amaliah yang bersandar dengan minimal perintah atau mempunyai hikmah, yang pasti tiada unsur keharaman atau dilarang dari sisi agama.

Dikalangan ulama, hukum Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman masih termasuk sesuatu yang di perselisihkan (Khilafiah). Diantara mereka ada yang menganjurkan, namun ada juga yang tidak menganjurkan, hal demikian membuktikan masing masing hukum yang di ungkapkan para ulama tersebut memiliki unsur dan argumen yang berbeda, selain itu membuktikan bahwa memang tiada dalil konkrit dari agama yang berbunyi perintah larangan atau kewajiban atas Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman, disinilah peran ulama dibutuhkan untuk berijthad dari kaca mata fiqih untuk menentukan hukumya.

Ada sebuah dalil umum tentang adzan sebagaimana berikut ini:

قَالَ صلى الله عليه وسلم اِذَا أُذِنَ فِي قَرْيَةٍ أَمَّنَهَا اللهُ مِنْ عَذَابِهِ ذَلِكَ الْيَوْمِ. (رواه الطبراني وسعيد بن منصنده عن أنس).

Rasulallah Saw bersabda, Jika pada sebuah desa dikumandangkan adzan, maka Allah akan menjaga desa tersebut dari siksa-Nya di hari itu. (Ath-Thabrani dan Sa’id bin Manshur dalam Musnadnya dari Anas).

Dalam hal khilafiah masalah Dalil Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman, Sayyid Alawi Al-Maliki mencoba memberikan penengah dari dua poros pendapat tersebut, sebagaimana yang di ungkapkan dalam kitabnya berikut ini:

اَلنَّوْعُ الثَّالِثِ فِعْلُهُ فِي الْقَبْرِى بَعْدَ وَضْعِ الْمَيِّتِ فِيْهِ. وَهَذَا لَمْ يَثْبُتْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِخُصُوْصِهِ لَكِنْ قَالَ الَاصْبَحِيْ لَا اَعْلَمُ فِيْ ذَلِكَ خَبَرًا وَلَا اَثَرًا اِلَّا شَيْئَا يُحْكَى عَنْ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِيْنَ قَالَ لَعَلَّهُ قِيْسَ عَلَى اسْتِحْبَابِ الْاَذَانِ وَالْاِقَامَةِ فِي اُذُنِ الْمَوْلُوْدِ وَكَاَنَّهُ يَقُوْلُ الْوِلَادَةُ اَوَّلُ الْخُرُوْجِ اِلَى الدُّنْيَا وَهَذَا اَخِرُ الْخُرُوْجِ مِنْهَا. وَفِيْهِ ضُعْفٌ فَاِنَّ هَذَا لَا يَثْبُتُ اِلَّا بِتَوْقِيْفٍ اَعْنِي تَخْصِيْصَ الْاَذَانِ وَالْاِقَامَةِ وَاِلَّا فَذِكْرُ اللهِ تَعَالَى مَحْبُوْبٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ اِلَّا فِي وَقْتِ قَضَاءِ الْحَاجَةِ.

Macam yang ketiga adalah adzan yang dilakukan setelah meletakkan mayit di dalam kuburan. Perbuatan ini tidak ada dalil khusus dari Rasulallah Saw. Tapi Al-Ashbahi berkata dalam hal itu saya tidak menjumpai khabar atau atsar kecuali dalil yang diceritakan oleh sebagian ulama mutaakhirin, (mereka mengatakan) mungkin perbuatan itu disamakan dengan kesunnahan adzan dan iqomah di telinga anak yang baru lahir. Seakan akan ia ingin mengatakan, bahwa kelahiran merupakan awal masuk ke dalam dunia sedangkan kematian merupakan akhir keluar dari dunia, pendapat seperti ini termasuk lemah karena mengkhususkan adzan dan iqomah tersebut merupakan perbuatan yang langsung diatur oleh Allah Swt. Namun yang perlu diperhatikan bahwa dzikir kepada Allah Swt merupakan perbuatan yang sangat disenangi, kapanpun dan dimanapun, kecuali saat buang hajat. (Majmuk Fatawi Wa Rasail, Hal: 113).

Syekh Ibrahim Al-Baijuri dalam Hasyiah Al-Baijuri menjelaskan:

ويسن الأذان والاقامة أيض خلف المسافر ولا يسن الأذان عند انزال الميت القبر خلافا لمن قال بسنيته قياسا لخروجه من الدنيا على دخوله فيها قال ابن حجر ورددته في شرح العباب لكن ان وافق انزاله القبر بأذان خفف عنه في السؤال.

Disunnahkan adzan dan iqomah saat melakukan perjalanan dan tidak disunnahkan adzan ketika menguburkan mayat. Pendapat ini berbeda dengan ulama yang mensunnahkan adzan karena menyamakan hukumnya dengan mengadzankan anak yang baru lahir. Ibnu Hajar berkata, saya menolaknya dalam Syarh Al-Ubab, akan tetapi jika penguburan mayat disertai adzan, maka mayat diringankan dalam menjawab pertanyaan di dalam kubur. (Hasyiah Baijuri).

Penjelasan kitab di atas, dapat kita pahami bahwa ulama berbeda pendapat tentang hukum Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman. Ada yang mengatakan sunnah ada juga yang tidak. Perbedaan ini didasarkan pada perbedaan mereka dalam memahaminya. Tentu saja ulama yang mengatakan tidak sunnah mempunyai argumentasi, begitu juga ulama yang mensunnahkan pasti juga punya landasan dan unsur untuk argumentasinya.

Lebih spesifiknya, mari kita simak penjelasan dari kitab dibawah ini:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا يُسَنُّ الْأَذَان عِنْدَ دُخُوْلِ الْقَبْرِ, خِلَافًا لِمَنْ قَالَ بِنِسْبَتِهِ قِيَاسًا لِخُرُوْجِهِ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى دُخُوْلِهِ فِيْهَا. قَالَ اِبْنُ حَجَرٍ: وَرَدَدْتُهُ فِى شَرْحِ الْعُبَابِ, لَكِنْ اِذَا وَافَقَ اِنْزَالُهُ الْقَبْرَ أَذَانٌ خَفَّفَ عَنْهُ فِي السُّؤَالِ.

Ketahuilah bahwasannya tidak di sunnahkan adzan ketika memasukkan jenazan ke kubur, berbeda dengan orang yang menisbatkan adzan karena mengqiyaskan meninggal dunia denga lahir ke dunia, Ibnu Hajar berpendapat: saya menolak pendapat ini dalam kitab Syarah Al-Ubab, bahkan ketika jenazah diturunkan ke dalam kubur bersamaan dengan dikumandangkannya adzan maka jenazah tersebut diringankan dari pertanyaan kubur. (I’anatut Tholibin Juz 1 hal: 230).

نعم قد يسن الأذان لغير الصلاة كما في اذان المولود, والمهموم, والمصروع, والغضبان ومن ساء خلقه من انسان, أو بهيمة وعند مزدحم الجيش وعند الحريق قيل وعند انزال الميت لقبره قياسا على أول خروجه للدنيا لكن رددته في شرح العباب وعند تغول الغيلام أي تمرد الجن لخبر صحيح فيه, وهو, والاقامة خلف المسافر.

(Dan sesungguhnya Adzan dan Iqomah ada di gunakan untuk sholat) memang betul demikian, tetapi kadang bisa digunakan untuk selain sholat, seperti untuk mengadzani anak yang baru lahir, orang yang bingung, pingsan, sedang marah, jelek kalakuannya baik dari manusia atau dari hewan, juga biasa di lakukan ketika berkecambuk perang, ketika kebakaran, dan menurut sebagian ulama demikian juga ketika menurunkan mayat ke lubang lahat, disamakan kepada waktu dilahirkan biasa di adzani, tapi qiyas ini di dalam kitab Al-Ubab diralat kembali, dan di sunnahkan kembali ketika mengamuknya jin, karena ada hadist shohih yang menerangkan. (Tuhfatul Muhtaj Juz 1 Hal 461).

Kitab ini menerangkan bahwa adzan kadang juga bisa di gunakan untuk selain sholat, dan dalam kategori selain sholat itu di kitab ini memasukkan kategori saat menurukan mayat atau jenazah ke liang lahat dengan memberikan alasannya, namun di kitab ini tetap menghormati keterangan kitab Al-Ubab yang berbeda dalam memberikan hukum Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman karena tidak sependapatnya qiyas antara kematian dan kelahiran.

Dalil Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman

Perlu kita tahu, kelahiran  adalah awal mulanya kita hidup di dunia, kematian adalah akhir kita hidup di dunia serta menjadi awal kita hidup di ala kubur, maksud qiyas dalam pendapat yang membolehkan atau mensunnahkan adzan dan iqomah saat pemakaman adalah mengqiyaskan kematian adalah sama sama awal masuk kehidupan alam, namun berbeda alam, dari situ kebolehan bahkan kesunnahan adzan dan iqomah di maksudkan untuk memberikan tanda atau penyambutan (bekal) awalnya kehidupan, jika kelahiran mendapat hikmah terhindar dari penyakit (ummu Sibyan), kalau awal kehidupan di alam kubur dalam keterangan kitab bisa menjadi peringan pertanyaan ketika di alam kubur.

Baca Juga: Dalil Adzan Dan Iqomah Saat Bayi Lahir

Dari penjelasan kitab kitab di atas, kita tahu bahwa memang hukum Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman terjadi khilafiah (perbedaan pendapat), namun semua khilafiah itu mempunya landasan masing masing, yang terpenting adalah, apa yang ada di lingkungan masyarakat seperti Adzan Dan Iqomah Saat Pemakaman adalah termasuk sesuatu yang harus di lestarikan, karena selain hal itu menjadi warisan ulama ulama terdahulu, hal itu juga memiliki landasan yang jelas dan kuat untuk di jadikan pedoman. Wallahualam.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel