Dalil Muraqqi (Bilal Sholat Jum’at)

Dalil Muraqqi (Bilal Sholat Jum’at)

Dalil Muraqqi, muraqqi adalah petugas yang menyuruh jamaah Jum’at memperhatikan sebelum khatib naik mimbar, lebih tepatnya, muraqqi adalah bilal sholat jumat. Sebelum khatib maju menuju mimbar dan menyampaikan khutbahnya, muraqqi atau bilal sholat jumat membacakan tarqiyyah, bacaan tersebut bermakna sebagai tanda bahwa khatib jum’at akan segera naik ke mimbar, dan bacaan tersebut menyerukan jamaah agar memperhatikan berlangsungnya ibadah sholat jum’at.

Secara kesimpulan dari bacaaan muraqqi atau bilal sholat jum’at ada 4 point yang di lakukan muraqqi dalam tugasnya:
1. Anjuran untuk mendengarkan secara seksama atau khusuk dalam khutbah jum’at.
2. Perintah agar tidak berbicara saat khutbah berlangsung.
3. Pembacaan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.
4. Mendoakan kaum muslimin dan muslimat.

Melihat 4 point isi kandungan muraaqi atau bilal sholat jum’at di atas sama sekali tidak mengandung sesuatu yang berdosa dan semua itu bernilai positif.

Perlu kita ketahui, bacaan yang dilakukan muraqqi adalah di luar dari ritual sholat jum’at, tepatnya sebelum khatib membuka salamnya dan memulai khutbahnya. Jadi muraqqi sama sekali tidak mencampuri ritual sholat jum’at (didalam salam pembuka hingga sholat jum’at dimulai).

Tradisi pembacaan tarqiyyah menurut mayoritas ulama adalah bid’ah hasanah (positif), karena didalamnya tercakup dalam dalil dalil anjuran umum, yang mana masih tergolong hal yang baik, yang masih memiliki landasan, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama:

(فَرْعٌ) اِتِّخَاذُ الْمُرَقِّ الْمَعْرُفِ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ لِمَا فِيْهَا مِنْ الْحَثِّ عَلَى الصَّلَاةِ عَلَيْهِ بِقِرَاءَةِ الْاَيَةِ الْمُكَرَّمَةِ وَطَلَبِ الْاِنْصَاتِ بِقِرَاءَةِ الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ الَّذِيْ كَانَ يَقْرَؤُهُ فِي خُطَبِهِ وَلَمْ يَزِدْ أَنَّهُ وَلَا الْخُلَفَاءَ بَعْدَهُ اتَّخَذُوْا مُرَقِّيًا. وَذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ أَنَّهُ لَهُ أَصْلًا فِي السُّنَّةِ وَهُوَ (قَوْلُهُ حِيْنَ خَطَبَ فِي عَرَفَةَ لِشَخْصٍ مِنْ الصَّحَابَةِ اسْتَنْصِتْ النَّاسَ).

(Sebuah cabang permasalah) Pengangkatan Muraqqi (bilal) yang sudah dikenal adalah bid’ah hasanah, sebab ada dorongan untuk bersholawat kepada Nabi dan menyuruh diam dengan membaca hadist yang shohih yang dibaca oleh Nabi dalam khutba-khutbahnya. Namun Nabi dan para sahabat tidak ada yang mengangkat muraqqi. Ibnu Hajar mengambil dasar hukum tentang Bilal ini yaitu ketika Rasulallah Saw khutbah di Arafah beliau menyuruh sahabat agar menyuruh orang-orang diam. (Hasyiah Qulyubi Jus 4 Hal 79) mengutip dari Tuhfatul Muhtaj Ibnu Hajar Al-Haitami, juz 9 hal 310).

فعلم أن هذا بدعة لكنها حسنة ففي قرأءة الاية الكريمة تنبيه وترغيب في الاتيان بالصلاة على النبي في هذا اليوم العظيم المطلوب فيه اكثارها وفي قراءة الخبر بعد الاذان وقبل الخطبة ميقظ للمكلف لا جتناب الكلام المحرم أو المكروه في هذا الخبر على المنبر في خطبته.

Maka dapat diketahui bahwa tarqiyyah adalah bid’ah akan tetapi bid’ah yang baik (hasanah). Dalam pembacaan ayat suci Al-Qur’an (yang berkaitan anjuran membaca sholawat) merupakan sebuah peringatan dan motivasi untuk membaca sholawat kepada Nabi di hari jum’at ini yang dianjurkan untuk memperbanyak bacaan sholawat. Pembacaan hadist setelah adzan dan sebelum khutbah mengingatkan mukallaf untuk menjauhi perkataan yang diharamkan atau dimakruhkan pada waktu ini (khutbah) sesuai dengan ikhtilaf ulama dalam masalah tersebut. Dan sesungguhnya Rasulallah Saw membaca hadist tersebut saat menyampaikan khutbahnya di atas mimbar. (Syeikh Muhammad Bin Ahmad Al-Ramli, fatawa Al-Ramli Hamisy Al-Fatawa Al-Kubra, Juz 1, hal 276 Beirut-Dar Al-Fikr, cetakan tahun 1983, tanpa keterangan cetak).

قال حج وأقول يستدل لذلك أي للسنة بأنه صلى الله عليه وسلم أمر من يستنصت له الناس عند ارادته خطبة منى في حجة الوداع وهذا شأن المرقى فلا يدخل في حد البدعة أصلا.

Syaikh Ibnu Hajar berkata, saya mengatakan, dalil mengangkat muraqqi dari sunnah Nabi adalah bahwa Rasulallah memerintahkan seseorang untuk mengintruksikan manusia untuk diam saat beliau Nabi hendak menyampaikan khutbah Mina di Haji Wada’, yang demikian ini adalah ciri khas dari seorang muraqqi, maka tradisi tarqiyyah sama sekali tidak masuk dalam kategori bid’ah. (Syaikh Sulaiman AlJamal, Hasyiyah Al-Jamal ‘ala Fath Al-Wahhab, Beirut, Dar Al-Fikr, Tanpa Tahun, Juz 2 Hal 35).

قَالَ الْأَجْهُوْرِيُّ وَعَلَّلَ الْكَرَاهَةَ بِاَنَّهُ لَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ, وَاِنَّمَا هُوَ مِنْ عَمَلِ أَهْلِ الشَّامِ, وَلِيْ فِي دَعْوَى الْكَرَاهَةِ بَحْثٌ مَعَ اشْتِمَالِهِ عَلَى التَّحْذِيْرِ مِنْ ارْتِكَابِ أَمْرٍ مُحَرَّمٍ حَالَ الْخُطْبَةِ فَلَعَلَّهُ مِنَ الْبِدْعَةِ الْحَسَنَةِ.

Al-Ajhuri berkata: Alasan makruhnya adalah karena tidak diriwayatkan dari Nabi Saw maupun shohabat. Hal ini hanyalah perbuatan ulama Syam. Menurut saya, penilaian makruh perlu dikaji lagi, sebab tarqiyyah (bilal) tersebut mengandung ajakan agar menghindari perbuatan yang di haramkan saat khutbah, maka masuk ke dalam bid’ah hasanah. (Al-Fawakih Ad-Dawani, Syaikh Ahmad An-Nafrani Al-Maliki, 3/190).

Dalil Muraqqi bilal sholat jum'at


(تَنْبِيْهٌ) كَاَ مُهُمْ هَذَا وَغَيْرِهِ صَرِيْحٌ فِي أَنَّ اتِّخَاذَ مُرَقٍّ لِلْخَطِيْبِ يَقْرَأُ الْاَيَةَ وَالْخَبَرَ الْمَشْهُوْرَيْنِ بِدْعَةٌ وَهُوَ كَذَلِكَ لِأَنَّهُ حَدَثَ بَعْدَ الصَّدْرِ الْأَوَّلِ قِيْلَ لَكِنَّهَا حَسَنَةٌ لِحَثِّ الْأَيَةِ عَلَى مَا يُنْدَبُ لِكُلِّ أَحَدٍ مِنْ اِكْثَارِ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَيْهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا سِيَّمَا فِي هَذَا الْيَوْمِ وَلِحَثِّ الْخَبَرِ عَلَى تَأَكُّدِ الْاِنْصَاتِ الْمُفَوَّتِ تَرْكُهُ لِفَضْلِ الْجُمُعَةِ بَلْ مُوْقِعٌ فِي اْلاِثْمِ عِنْدَ كَثِيْرِيْنَ مِنْ الْعُلَمَاءِ. وَأَقُوْلُ يُسْتَدَلُّ لِذَلِكَ أَيْضًا بِأَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أَمْرُ مَنْ يَسْتَنْصِتُ لَهُ النَّاسَ عِنْدَ اِرَادَتِهِ خُطْبَةَ مِنَى فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فَقِيَاسُهُ أَنَّهُ يُنْدَبُ لِلْخَطِيْبِ أَمْرُ غَيْرِهِ بِأَنْ يَسْتَنْصِتَ لَهُ النَّاسَ وَهَذَا هُوَ شَأْنُ الْمُرَقِّي فَلَمْ يَدْخُلْ ذِكْرُهُ لِلْخَبَرِ فِي حَيِّزِ الْبِدْعَةِ أَصْلًا فَاِنْ قُلْتَ لِمَ أَمَرَ بِذَلِكَ فِي مِنَى دُوْنَ الْمَدِيْنَةِ قُلْتُ لِاجْتِمَاعِ أَخْلَاطِ النَّاسِ وَجُفَاتِهِمْ, ثُمَّ فَاحْتَا جُوْا لِمُنَبِّهٍ بِخِلَافٍ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَلَى أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُنَبِّهُهُمْ بِقِرَاءَتِهِ ذَلِكَ الْخَبَرَ عَلَى الْمِنْبَرِ فِيْ خُطْبَتِهِ.

(Perhatian) Statemen para ulama ini dan yang lain adalah tegas adanya dalam menjadikan Muraqqi untuk khatib yang akan membaca ayat dan hadist mayshur, adalah bid’ah. Demikianlah, karena hal itu baru terjadi setelah kurun awal. Dikatakan tetapi hal itu baik, sebab muatan ayat tersebut mendorong pada hal hal yang di sunnahkan bagi setiap orang, seperti memperbanyak sholawat dan salam kepada Rasulallah Saw, lebih lebih pada hari ini (Jum’at), dan muatan hadist tersebut juga memberikan penegasan untuk memperhatikan hal hal yang dapat menghilangkan fadhilah Jum’at jika tidak dilakukan bahkan bisa menjerumuskan pada dosa menurut banyak ulama. Aku berkata, “juga dijadikan dasar untuk itu adalah bahwa Rasulallah Saw pernah memerintahkan seseorang yang menyuruh orang-orang supaya memperhatikan ketika beliau menghendaki khutbah di Mina pada Haji Wada’. Maka analoginya adalah, khatib disunnahkan memerintahkan seseorang untuk menyuruh orang orang supaya memperhatikannya. Dan inilah fakta muraqqi (dalil muraqqi) itu. Maka seorang muraqqi yang membacakan hadist sama sekali tidak masuk dalam kategori bid’ah”. Apabila kamu bertanya “kenapa Nabi memerintahkan itu di Mina dan tidak di Madinah”?. Aku jawab, “karena kumpulnya orang orang yang campur baur dan jumlah besar mereka, maka mereka membutuhkan seseorang yang mengingatkan. Berbeda dengan penduduk Madinah, Nabi cukup mengingatkan mereka dengan membaca hadist itu di atas mimbarnya saat beliau khutbah. (Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhjaj Fi Syarhil Minhaj).

Demikianlah pembahasan kami tentang Dalil Muraqqi, yang mana sangat jelas landasannya dan juga dibuktikan dengan kalam kalam ulama, dengan begitu muraqqi atau bilal sholat jum’at adalah sebuah amaliah yang harus kita jaga dan kita lestarikan, dan harus kita jawab jika ada yang menyalahkannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel