Dalil Berdzikir Sesudah Sholat

Dalil Berdzikir Sesudah Sholat

Bedah Hukum Berdzikir Sesudah Sholat. Berdzikir sesudah sholat sering kita jumpai di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia, dan lebih tepatnya dzikir sesudah sholat itu sebagian besar pengamalnya adalah warga Nadlotul Ulama. Berdzikir sesudah sholat merupakan membaca kalimat kalimat dzikir yang sudah biasa atau umum urutannya, mulai dari istigfar, tahmid, takbir, tahlil, dan masih banyak lagi di dalamnya selain itu.

Pada dasarnya, dzikir sesudah sholat yang biasa dilakukan oleh warga NU adalah gabungan dari berbagai dalil yang di dalamnya menyebutkan dzikir, doa, atau keutamaan bacaan, kemudian itu semua di urutkan, di tata, dan di konsep sehingga disebut Dzikir Sesudah Sholat, dalam penjabaran lain dzikir sesudah sholat adalah kumpulan dari berbagai dalil yang di susun dan dikonsep menjadi urutan dzikir.

Dari segi itulah banyak orang yang tidak faham, sehingga menuduh nuduh dzikir sesudah sholat sebagai ibadah baru, di ada ada, bid’ah, dan tidak adala dalilnya, padahal secara jelas dzikir sesudah sholat tersebut adalah berasal dari dalil dalil yang di rangkum.

Hukum Berdzikir Sesudah Sholat

Pada dasarnya berdzikir adalah sunnah umum, maksudnya dimanapun kapanpun jika kita berdzikir (mengingat Allah) pasti kita mendapat kesunnahan, terkecuali di tempat yang memang dilarang untuk berdzikir.

Kita sering melihat, pada umumnya khusunya warga NU berdzikir menjadi hal rutinan bahkan kebiasaan terutama di waktu selesai sholat berjamaah ataupun sendirian, tentu saja hal itu mempunyai landasan yang jelas, dan tak mungkin ulam ulama terdahulu meninggalkan ajaran yang kuran tepat untuk generasi sekarang, yang ada malahan sekarang, baru belajar islam sudah merasa semua salah hanya karena tidak sama dengan dirinya, berikut ini kami sajika dengan lengkap dalil dalil berdzkir sesudah sholat, dan hukum berdzikir sesudah sholat.

Dalil Berdzikir Bersama

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ اِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ, وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِيْنَةُ, وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ. (رواه مسلم)

Dari Abi Hurairah ra dan Abi Said Al-Khudri ra bahwa keduanya telah menyaksikan Nabi Saw beliau bersabda: tidaklah berkumpul suatu kamum sambil berdzikir kepada Allah ‘Azza Wa Jalla kecuali para malaikat mengelilingi meeka, rahmat menyelimuti mereka, dan keterangan hati turun kepada mereka, dan Allah menyebut (memuji) mereka dihadapat makhluk yang ada disisi-Nya. (HR. Muslim).

وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صل عليه وسلم لَأَنْ أَذْكُرَ اللهُ مَعَ قَوْمٍ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ اِلَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ أَحَبُّ اِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَأَنْ أَذْكُرَ اللهَ تَعَالَى مَعَ قَوْمٍ بَعْدَ صَلَاةِ الْعَصْرِ اِلَى أَنْ تَغِيْبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ اِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا. (رواه البيهقي واسناده حسن)

Dari Anas ra Rasulallah saw bersabda sungguh manakala aku berdzikir kepada Allah bersama sama dengan suatu kaum susai sholat Fajar hingga matahari terbit, itu lebih aku sukai dari pada dunia dan siisinya, dan sungguh manakala aku berdzikir kepada Allah bersama-sama dengan suatu kaum seusai sholat asar hingga matahari terbenam, itu lebih aku senangi dari pada dunia dan seisinya. (HR. Al-Baihaqi dengan sanad hasan)

Dalil Berdzikir Menggunakan Tasbih

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيْهَا أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى امْرَأَةٍ وَبَيْنَ يَدَيْهَا نَوًى أَوْ حَصًى تُسَبِّحُ بِهِ. (رواه أبو داود والترمذي والحاكم والبيهقي)
Dari Aisyah binti Sa’id ibn Abi Waqqas dari ayahnya, bahwa sesungguhnya ayahnya bersama Rasulallah Saw pernah mendatangi seorang wanita dan dihadapannya terdapat beberapa biji kurma atau kerikil yang ia gunakan untuk bertasbih. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi).

Dalil Mengeraskan Suara Ketika Berdzikir

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوْبَةِ, كَانَ عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم. (رواه البخاري ومسلم).

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata: Bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir ketika orang orang selesai sholat maktubah itu sudah ada pada masa Nabi Saw. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalil Berdzikir Dengan Suara Tidak Terlalu Keras

ارْبَعُوْا عَلَى أَنْفُسَكُمْ فَاِنَّكُمْ لَا تَدْعُوْنَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا, وَلَكِنْ تَدْعُوْنَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا. (رواه البخاري)

Ringankanlah atas diri kalian (jangan mengeraskan suara secara berlebihan) karena seusngguhnya kalian tidak berdoa kepada Allah yang tidak mendengar dengan tidak kepada yang ghaib, akan tetapi kalian berdoa kepada Dzat yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. (HR. Bukhari).

Penyataan Imam Nawawi Terkait Suara Ketika Berdzikir

وَقَدْجَمَعَ النَّوَوِيُّ بَيْنَ الْأَحَادِيْثِ الوَارِدَةِ فِي اسْتِجَبَابِ الْجَهْرِ بِالذِّكْرِ وَالْوَارِدَةِ فِى اسْتِحَبَابِ الاِسْرَارِ بِهِ بِأَنَّ الْاِخْفَاءَ أَفْضَلُ حَيْثُ خَافَ الرِّيَاءَ أَوْ تَأَذَّى الْمُصَلُّوْنَ أَوْ النَّائِمُوْنَ وَالْجَهْرُ أَفْضَلُ فِى غَيْرِ ذَلِكَ لِاَنَّ الْعَمَلَ فِيْهِ أَكْثَرُ وَلِاَنَ فَائِدَتَهُ تَتَعَدَّى اِلَى السَّامِعِيْنَ وَلِاَنَّهُ يُوْقِظُ قَلْبَ الذَّاكِرِ وَيَجْمَعُ هَمَّهُ اِلَى الفِكْرِ وَيَصْرِفُ سَمِعَهُ اِلَيْهِ وَيَطْرِدُ النَّوْمَ وَيَزِيْدَ فِي النِّشَاطِ. (أبو الفداء اسماعيل حقي, روح البيان, بيروت دار الفكر).

Imam An-Nawawi memadukan antara hadist-hadist yang menganjurkan (mustahab) mengeraskan suara dalam berdzikir dan hadist hadist yang menganjurkan memelankan suara dalam berdzikir, bahwa memelankan suara dalam berdzikir itu lebih utama sekiranya dapat menutupi riya dan mengganggu orang yang sholat atau yang sedang tidur. Sedangkan mengeraskan suara dalam berdzikir itu lebih utama pada selain kondisi tersebut karena perbuatan yang dilakukan lebih banyak faidah dari berdzikir dengan suara keras itu bisa memberikan pengaruh yang mendalam kepada pendengarnya, bisa mengingatkan hati orang yang berdzikir, memusatkan perhatiannya untuk melakukan perenungan terhadap dzikir tersebut, mengarahkan pengedengarannya kepada dzikir tersebut, menghilangkan kantuk dan menambah semangatnya. (Abu Al-Fida’ ismail Haqqi, Ruh Al-Bayan, Beirut Dar Al-Fikr juz 3 Hal 306).

Dalil Imam Berdo’a Di Amini Makmum Saat Berdzikir

عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: لَا يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ فَيَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيَؤَمِّنُ يَعْضُهُمْ اِلَّا اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. (رواه الطبراني).

Dari habib bin Maslamah Al-Fihri ra ia adalah seorang yang dikabulkan doanya berkata: saya mendengar Rasulallah Saw bersabda: Tidaklah berkumpul suatu kaum muslim yang sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengamini, kecuali Allah mengabulkan doa mereka. (HR. Al-Tabaroni).

Dalil Dalil Dzikir Sesudah Sholat


Hukum Berdzikir Sesudah Sholat, Bedah Hukum Berdzikir Sesudah Sholat

Dalil Membaca Istigfar Dan Allahumma Antas As-Salam

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم  اِذَا انْصُرْفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامْ وَمِنْكَ السَّلَامْ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْاِكْرَامْ قَالَ الْوَلِيْدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُوْلُ أَسْتَغْفِرُ اللهْ أَسْتَغْفِرُ اللهْ.

Dari Tsauban ra beliau berkata Rasulallah Saw jika selesai dari sholatnya beliau beristigfar 3 kali dan berkata Allahumma Antas Salam Wa Minkas Salam Tabarokta dzal jalali wal ikrom. Al-Walid (salah seorang perawi) berkata: Aku bertanya kepada Al-Auza’i: Bagaimana istigfar tersebut? Al-Auzai menjawab: mengucap Astagfirullah Artagfirullah. (HR. Muslim).

Dalil Membaca Lailahaillallah Wahdahu La Syarikalah

عَنْ أَبِيْ الزُّبَيْرِ قَالَ كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُوْلُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِيْنَ يُسَلِّمُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ وَقَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ.

Dari Abu Az-Zubair ia berkata Ibnu Zubai mengucapkan selesai sholat (setelah salam) Lailahaillallah wahdahu lasyari kalahu, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli syai in qodir, lahaula wala quwwata illa billah, la ilahaillallah wala na’budu illa iyahu lahun ni’matu wa lahul fadlu wa lahuts tsanaul hasan, lai ilahaillallah mukhlishina lahuddin walau karihal kafirun. Ibnu Az-Zubair berkata: Nabi Saw bertahlil dengan ucapan ucapan ini pada setiap selesai sholat. (HR. Muslim).

عَنْ وَرَّادٍ مَوْلَى الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَتَبَ الْمُغِيْرَةُ اِلَى مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُوْلُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ اِذَا سَلَّمَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ اَللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.

Dari Warrod Maula Al-Mughiroh bin Syu’bah beliau berkata Al-Mughiroh menulis surat kepada Muawiyah bin Abi Sufyan bahwasannya Rasulallah Saw membaca (Dzikir) setelah salam (dalam) sholat: La ilahaillallah wah dahu lasyari kalah, lahul mulku walahul hamdu wahuwa ala kulli syai in qodir. Allahumma la ma ni’a lima a’tthoyta wa la mu’tiya lima mana’ta. Wala yanfa’u dzal jaddi minkal jad. (HR Bukhari Muslim).

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ قَالَ فِيْ دُبُرِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَهُوَ ثَانٍ رِجْلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَتَكَلَّمَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَشْرَ مَرَّاتٍ كُتِبَتْ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئَاتٍ وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ وَكَانَ يَوْمَهُ ذَلِكَ كُلُّهُ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلِّ مَكْرُوْهٍ وَحُرِسَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبِ أَنْ يُدْرِكَهُ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ اِلَّا الشِّرْكَ بِا اللهْ.

Dari Abu Dzar ra bahwa Rasulallah Saw bersabda: barang siapa yang mengucapkan selesai sholat subuh dalam keadaan belum merubah posisi kakinya sebelum berbicara (yang lain). Laa ilaha illallah wahdahu lasyarikalah, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa ala kulli syai in qodir sepuluh kali, tercatar untuknya 10 kebaikan, dihapus 10 keburukan, diangkat 10 derajat dan hari itu dilindungi dari segala yang dibenci dan dibentengi dari syaitan dan tidak ada dosa yang bisa membatalkan amalannya pada hari itu kecuali kesyirikan. (HR At-Tirmidzi) dihasankan olehnya dan disepakati oleh Al-hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Nataaijul Afkar Juz 2 Hal 304).

Dalil Membaca Tasbih, Tahmid dan Takbir

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ سَبَّحَ اللهَ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَحَمِدَ اللهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَكَبَّرَ اللَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَاِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ.

Dari Abu Hurairah ra dari Rasulallah Saw: barang siapa yang bertasbih selesai sholat 33 kali dan bertahmid 33 kali dan bertakbir 33 kali, itu adalah 99, dan disempurnakan menjadi 100 dengan ucapan Lailahaillallah wahdahu la Syarikalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai in qodir, akan di ampuni dosa-dosanya meski sebanyak buih di lautan. (HR. Muslim).

عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ الْفُقَرَاءُ اِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ مِنْ الْأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَا وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ يُصَلُّوْنَ كَاَه نُصَلِّي وَيَصُوْمُوْنَ كَاَو نَصُوْمُ وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّوْنَ بِهَا وَيَعْتَمِرُوْنَ وَيُجَاهِدُوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ قَالَ اَلَا اُحَدِّثُكُمْ اِنْ أَخَذْتُمْ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ اِلَّا مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُوْنَ وَتَحْمَدُوْنَ وَتُكَبِّرُوْنَ خَلْفَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثَا وَثَلَاثِيْنَ فَاخْتَلَفْنَا بَيْنَنَا فَقَالَ بَعْضُنَا نُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَنَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ وَنُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِيْنَ فَرَجَعْتُ اِلَيْهِ فَقَالَ تَقُوْلُ سُبْحَانَ اللهْ وَالْحَمْدُلِلَّهِ وَاللهُ أَكْبَرُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنْهُنَّ كُلِّهِنَّ ثَلَاثًا وَثَلَاثِيْنَ.

Dari Abu Hurairah ra beliau berkata: orang orang faqir datang kepada Nabi Saw kemudian berkata: Orang orang kaya yang banyak harta telah pergi mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang kekal. Mereka sholat sebagaimana kami sholat, berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka memiliki kelebihan harta. Mereka berhaji dan umrah, berjihad dan bershodaqoh. Nabi bersabda: Maukah kalian aku tunjukkan (suatu amalan) jika kalian lakukan akan mencapai orang orang yang mendahului kalian, dan kalian tidak akan dicapai oleh orang orang setelah kalian dan kalian adalah yang terbaik, kecuali jika ada yang beramal semisal dengan itu? Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir selesai sholat 33 kali. Maka kami berselisih di antara kami. Sebagian kami ada yang menyatakan: bertasbih 33 kali bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali, kemudian kami kembali kepadanya, maka ia berkata: engkau mengucapkan subhanallah walhamdulillah wallahuakbar 33 kali. (HR Bukhari no 798 dan Muslim No 936).

Dalil Membaca Ayat Kursi

عَنْ أَبِيْ اِمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: مَنْ قَرَأَ اَيَةَ الْكًرْسِيِّ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوْبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ اِلَّا أَنْ يَمُوْتَ.

Dari Abu Umamah ra beliau berkata: Rasulallah Saw bersabda: Barang siapa yang membaca ayat kursi selesai sholat wajib, tidaklah menghalanginya dari masuk surga kecuali kematian. (HR An-Nasai).

Dalil Membaca Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اِقْرَأُوْا الْمُعَوِّذَاتِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ.
Dari Uqbah bin Amir ra beliau berkata: Rasulallah Saw bersabda: Bacalah Al-Muawwidzat (Al-Ikhlas, Al-Faalaq, An-Nas) setiap selesai sholat. (HR An-Nasai) dishohihkan Al-Hakim (Sesuai Syarat Muslim).

Kesimpulan

Dengan mengetahui semua Dalil Berdzikir Sesudah Sholat  diatas, bukankan kita bisa menggambarkan kehebatan ulama ulama nusantara termasuk wali songo dalam mengkonsep semua dalil diatas?, sehingga dari kumpulan dalil dalil di atas, di rangkum dan disusun sehingga menjadi sebuah amaliah sehari hari yang sudah matang satu konsep tinggal pakai dan tinggal mengerjakan. Bersyukurlah kita sebagai generasi islam diwarisi amaliah amaliah tersebut oleh leluhur kita, mari kita jaga dan terus kita lestarikan agar anak cucu kita juga merasakan indahnya islam warisan ulama leluhur kita semua.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel